Senin, 14 Maret 2011

Harapan Kuli Sindang Pembangunan Jangan Terhenti

Kuli Sindang ini kalo nggak ada kerjaan, kerjanya layah-leyeh aja... nunggu kerjaan datang! [Foto: Firmansyah]Kuli Sindang ini kalo nggak ada kerjaan, kerjanya layah-leyeh aja... nunggu kerjaan datang!Bila Anda biasa melewati Jl Kalibata atau tepatnya di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta Selatan maka akan menemukan serombongan orang yang duduk – duduk santai atau tiduran di pinggiran jalan yang menghubungkan Cawang dan Pasar Minggu ini. Mereka bukanlah preman atau pengangguran tapi tukang gali tanah atau tukang sindang yang sedang menunggu kerjaan. 
 
Kalibata merupakan satu di antara basecamp tukang sindang yang ada di Jakarta. Karena selain Kalibata, tukang sindang juga yang mangkal di Halim Jakarta Timur, Grogol Jakarta Barat, Kemang Jakarta Selatan dan Priok, Jakarta Utara. Tempat pangkalan ini juga mencirikan dari mana mereka berasal. Di Kalibata ini, tukang sindang berasal dari Majalengka, Tasikmalaya dan Sumedang Jawa Barat.

Di TMP Kalibata ini mereka bergerombol dari 5 – 7 orang. Rata – rata tukang sindang yang mangkal di Kalibata ini sudah puluhan tahun. Bahkan jauh sebelum kawasan Kalibata menjadi modern sekarang yang dipenuhi apartemen dan mall. Ini diungkapkan Harun (60) yang mengaku sudah 20 tahun mangkal di depan TMP Kalibata.

Harun mangkal di Kalibara sejak dirinya masih bujangan hingga kini sudah menikah ketiga kalinya. "Pohon – pohon itu malah saya yang tanam," kata Harun menunjuk pohon tanjung yang menghiasi sepanjang Jl Kalibata depan TMP Kalibata.
Kalau nggak ada kerjaan, makan ada aja yang ngasih [Foto: Firmansyah]Kalau nggak ada kerjaan, makan ada aja yang ngasih
Menurut Harun, selain gali tanah, tukang sindang juga bisa melakukan pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan bangunan seperti tukang dan tebang pohon. Namun dua pekan belakangan ini pekerjaan tersebut sedang sepi. Akibatnya, kesehariannya hanya dihabiskan untuk duduk santai dan tiduran sehingga menghabiskan honor yang didapat sebelumnya.

"Hari ini belum makan, karena duitnya sudah habis," ungkap Harun menerawang.

Namun namanya rejeki sudah diatur Tuhan, sambung Harun, ada saja orang yang memberinya makan. Biasanya yang memberikan bungkusan nasi adalah pengendara mobil atau motor yang melewati jalan tersebut.

"Jadi kalau lagi sepi begini kita dapat makan dari pemberian orang saja," papar Arif, teman Harun lainnya.
Menunggu rejeki datang [Foto:  Firmansyah]Menunggu rejeki datang
Mengenai tarif yang ditetapkan ketika mengerjakan galian, menurut Harun, tergantung kesepakatan. Jika hitungan perhari maka tarif berkisar Rp 75 ribu – Rp 100 ribu, tergantung ringan dan beratnya pekerjaan. Ada juga tarif yang dihitung berdasarkan berapa meter tanah yang telah dikerjakan.

Biasanya tarif hitungan perhari ketika mengerjakan proyek di perumahan sedangkan jika mengerjakan galian tanah untuk kabel dan lainnya dihitung berdasarkan berapa meter galian tanah yang telah dikerjakannya.

"Tapi kalau dapat yang pelit cuma dibayar Rp 50/hari tidak dapat makan dan minum," jelas Harun yang memiliki dua anak yang duduk di bangku SMK ini.

Sementara untuk pulang kampung menemui anak dan istri, biasanya dilakukan setelah bekerja selama dua atau empat minggu. Dalam kurun waktu itu sebesar Rp 500 – 1 juta berhasil dikumpulkan untuk dibawa pulang kampung. "Tapi sekarang boro – boro untuk makan saja susah karena kerjaan lagi sepi," tuturnya.
Setiap malam tidur di emperan TMP Kalibata [Foto: Firmansyah]Setiap malam tidur di emperan TMP KalibataDalam kondisi saat ini, untuk pulang kampung jika ada keperluan mendadak biasanya dengan cara meminjam uang temannya untuk sekedar ongkos. Utang akan dibayar setelah tiba di Jakarta dan mendapatkan pekerjaan.

Menemukan Harta Karun
Sebagai orang yang setiap harinya mengerjakan galian tanah. Harun juga pernah menemukan harta karun yang biasa.tersimpan di dalam tanah. Apalagi di kedalaman perut bumi ini adalah media paling aman untuk menyimpan harta yang dilakukan orang – orang terdahulu.
Ia menemukan harta yang tersimpan di tanah saat mengerjakan galian di daerah Margonda Depok. Saat itu ia menemukan harta karun berupa guci berbahan keramik sebanyak tiga pcs.

"Tapi karena saya punya atasan, guci itu saya serahkan ke bos," paparnya.
Sebagai orang yang pekerjaan sangat berat karena kerap berpanas – panasan di tengah terik matahari dan kadang tersiram guyuran hujan, Harun dan teman – temannya berharap agar pembangunan di negara ini tidak terhenti. Jika pembangunan kota berjalan harapannya sebagai tukang sindang bisa terkabul karena tenaganya masih terpakai untuk menggali dan memasang pondasi. Semoga!

1 komentar:

  1. kalau ada info renovasi rumah pak,boleh donk kerjasama dengan kami,
    http://timrenovasirumah.com/renovasi-meninggikan-lantai-keramik/

    BalasHapus