Rabu, 02 Maret 2011

Susianto: Vegetarian Bisa Selamatkan Bumi

Foto : IstimewaFoto : IstimewaMEMAHAMI pentingnya arti sehat, apalagi dengan sehat bisa mengurangi biaya hidup karena bisa lepas dari berbagai penyakit membuat Dr Drs Susianto, MKM menganut pola hidup vegetarian (hanya makan tumbuh-tumbuhan dan tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari makhluk hidup seperti daging dan unggas).  Hal ini dilakukannya sudah hampir 23 tahun.

Foto : IstimewaFoto : IstimewaDengan menganut pola hidup vegetarian, dampak yang dialami Susianto sangat luar biasa. Berbagai penyakit baik yang ringan atau berat nyaris tak pernah dirasakannya. Oleh karenanya di usianya yang memasuki 44 tahun ia masih terlihat energik, sehat, dan bugar.

“Saya ahli gizi jadi tahu mana yang sehat dan yang tidak. Di dalam daging itu banyak racun dan tinggi kolesterol. Resiko tinggi kolesterol bisa terkena penyakit jantung, stroke, hipertensi dan macam-macam,” kata Dr Drs Susianto, MKM yang ditemui TNOL di Universitas Indonesia belum lama ini.

Selain bebas dari berbagai penyakit yang membahayakan dan mematikan, tekanan darah mereka yang menganut pola hidup vegetarian juga biasanya normal. Ini dibuktikan oleh Susianto yang telah menjalani pola hidup vegetarian selama 23 tahun dimana tekanan darahnya tetap normal yakni 80/120 dan tidak pernah lewat dari angka tersebut.

Susianto menuturkan untuk mengikuti pola hidup vegetarian harus bertahap. Bisa dimulai tidak memakan daging. Bila hal tersebut telah dilakukan maka bisa berlanjut untuk tidak makan daging ayam dan ikan.  Namun dari semua itu yang terpenting ada kesadaran diri untuk hidup sehat dan pengetahuan tentang vegetarian yang akan membuat seseorang menjadi sehat. “Untuk menjadi vegetarian bisa bertahap. Bisa dilakukan dari hari, minggu hingga sampai sebulan tidak makan daging, ikan dan telur,” jelas lelaki kelahiran Riau, 1 Oktober 1967 ini.

Foto : IstimewaFoto : IstimewaLalu bagaimana dengan rasa bosan yang menghadang, dengan lugas Susianto menuturkan, dengan pengetahuan yang memadai tentang vegetarian maka rasa bosan tidak akan datang. Karena dengan pengetahuan tersebut maka akan mengetahui pola makan yang sehat.
“Kita kan ingin sehat. Kita tahu memakan daging itu bahaya karena di daging ada kolesterol dan minyak jenuh yang tidak bisa diterima oleh tubuh. Selain itu di daging juga mengandung antibiotic. Jadi lengkap racun-racun yang ada di daging,” papar peraih Doktor (S3) Gizi Kesmas Universitas Indonesia ini.

Foto : IstimewaFoto : IstimewaPestisida yang terdapat di dalam daging, sambung Susianto, juga  sangat tinggi. Dan pertisida tersebut tidak bisa dicuci karena sudah menyerap di dalam jaringan. Sementara pestida yang terjadi di buah-buahan bisa dicuci dengan air bersih. Susianto mengetahui pestisida yang terdapat di daging karena kesehariannya adalah bekerja di laboratorium.

“Saya jadi tahu apa isi kandungan di daging,” ungkap Susianto yang menjabat sebagai Ketua Indonesia Vegetarian Society ini.

Lebih lanjut Susianto menuturkan, dengan tidak memakan daging juga berkontribusi dalam pencegahan global warming. Berdasarkan data dari Food Agriculture Organization (FAO) bahwa peternakan seperti sapi, babi dan domba memberikan kontribusi terhadap efek gas kaca sebesar 18%. Sementara sektor transportasi seperti udara, laut dan darat kontribusinya hanya 13%.

Foto : IstimewaFoto : IstimewaTingginya kontribusi dalam global warming inilah yang menyebabkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menghimbau agar setiap manusia mengurangi konsumsi hewani dan lebih memperbanyak nabati karena lebih ramah lingkungan. Saat ini jumlah hewan di seluruh dunia 3 kali dari jumlah manusia. Jika jumlah manusia 6 milyar maka hewan mencapai 19,5 milyar yang terdiri dari ayam, sapi, babi dan kambing.

“Oleh karena itu dengan mengurangi konsumi hewani kita bisa mengurangi global warming,” papar Susianto yang juga menjabat sebagai Sekjen Asian Vegetarian Union (AVU) ini.

Susianto menuturkan, jumlah hewan ternak yang sangat banyak karena hewan tersebut diternak secara tidak natural alias disengaja mengingat banyaknya permintaan. Sementara jika tidak ada permintaan maka jumlah hewan tersebut tidak akan melimpah. Jadi hewan tersebut diternak dalam jumlah banyak karena manusia ingin memakannya. Namun manusia tidak mau memakannya maka hewan itu akan berkembang biak sesuai dengan  ekosistem karena dalam ekosistem terdapat hewan predator.

Konsep 4 Sehat 5 Sempurna
Terkait dengan konsep 4 Sehat 5 Sempurna yang harus memakan daging dan telur untuk mendapatkan gizi seimbang. Dengan tegas Susianto mengatakan,  konsep 4 Sehat 5 Sempurna merupakan konsep yang salah. Oleh karena itu Departemen Kesehatan telah merevisi konsep tersebut sejak tahun 1993.

Kesalahan konsep 4 Sehat 5 Sempurna karena hanya diajarkan secara kualitatif saja. Artinya setiap manusia harus memakan lauk pauk, sayur, buah, makanan pokok dan susu. Padahal untuk mendapatkan gizi seimbang tidak harus memakan hewan. Oleh karena itu Departemen Kesehatan mengganti konsep 4 Sehat 5 Sempurna dengan PUGS (Pedoman Umum Gizi Seimbang).

“Jadi tidak ada istilah tidak minum susu maka tidak sempurna. Karena susu itu hanya merupakan salah satu bagian dari protein. Dan protein itu bisa diperoleh di kedelai yang mencapai 34% sementara daging, susu dan ikan hanya 20%. Zat besi untuk mencegah anemia dalam tempe 8-10 miligram. Daging sapi hanya 2,5 miligram, ayam, 1,5 miligram. Kambing 1 miligram. Jadi sebetulnya itu semua mitos. Jadi tidak ada alasan harus konsusmi makan daging supaya protein cukup,” jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar