Itulah Gatya Racing. Bengkel ini terletak di Jl Basuki Rahmat No 46 Jakarta Timur. Atau letak persisnya di tikungan jalan yang mengarah ke Jl Casablanca dari arah Kebon Nanas. Memang tidak ada plang nama sebagai identitas dari bengkel tersebut, namun jika mendapati sejumlah kendaraan VW yang terparkir di pinggir jalan, maka tidak salah lagi, itulah bengkel Gatya Racing.
Hal ini berbeda dengan bengkel kendaraan lainnya yang suka menutup-nutupi kerusakan. Selain itu, terkadang menyebut kerusakannya telah merembet ke yang lain, sehingga menyebabkan komponen lain harus diganti.
“Disini terbuka, kalau memang kerusakannya disekitar rem, ya saya bilang di rem, tidak merembet yang ke lain,” kata Turnandono pada TNOL kemarin.
Selain itu, dengan menyebut kerusakan apa adanya tidak akan membuat pemilik kendaraan mengalami shock sehingga tidak trauma ketika memiliki mobil VW yang tahun produksinya sudah tua.
Keterbukaan itulah, sambung Nano, yang membuat bengkelnya tetap eksis hingga kini. Bahkan dari keterbukaan itu pula bengkelnya selalu menjadi rujukan untuk segala perbaikan kendaraan VW. Menjadi rujukan penggemar mobil VW dibuktikan dengan banyaknya jumlah mobil VW yang antri untuk diperbaiki di bengkel tersebut. Bahkan, antrian mobil-mobil VW tersebut hingga keluar areal bengkel.
“Banyaknya bengkel VW yang gulung tikar karena tidak terbuka tentang kerusakan yang dialami kendaraan pelanggan. Akibatnya bengkel tersebut banyak ditinggalkan pelanggan,” papar lelaki kelahiran Jakarta 18 Juni 1960 ini.
Karena sering menangani dan merubah mesin dari yang standar menjadi racing inilah, bengkel ini juga kerap menjadi juara dalam ajang drag race. Berbagai piala dan piagam dari juara I, II dan III telah disabet. Bahkan, ajang paling bergengsi yakni kelas free for all juga milik Gatya Racing. Kelas free for all adalah ajang kompetisi semua kendaraan drag race dengan kapasitas yang berbeda, beradu untuk menjadi nomor satu.
Terkait tarif yang dikeluarkan untuk perbaikan total, Nano mengungkapkan, jika restorasi total dari sebuah kendaraan yang sudah menjadi bangkai (mati) menjadi hidup kembali, tarifnya adalah Rp 17,5 juta. Tarif itu diluar servis lainnya seperti kelistrikan, karet-karet body dan interior.
“VW juga bisa menjadi sepeda motor dengan roda dua dan stang seperti sepeda motor lainnya,” ungkapnya.
Tentang VW yang bisa diubah menjadi kendaraan sesuai selera, sudah dibuktikan Nano. Ia membuat VW menjadi sebuah kendaraan dengan nama boogie dengan jenis yang langka. Disebut langka karena mesin boogie ditempatkan di tengah rangka atau mid engine. Sayangnya VW jenis itu sudah menjadi kenangan saja karena telah dipreteli untuk diubah menjadi drag race.
“Kalau VW menjadi motor tinggal nunggu sponsor saja. Kalau sponsor ada bisa langsung jadi,” papar Nano sambil menyebut anggaran sebesar Rp 50 juta untuk membuat VW menjadi sepeda motor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar