Banyaknya penderita Skizofrenia di Indonesia berdasarkan prevalensi 1-2 persen dari populasi penduduk Indonesia. Berdasarkan sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Agustus 2010, jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan.
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo” yang artinya retak atau pecah (split), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan demikian, seseorang yang menderita Skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian. Skizofrenia sendiri baru ditemukan pada awal abad 18 oleh Benedict Morer. Dia menemukan orang yang seperti lupa segalanya, bersikap kekanak-kanakan. Namun, penyakit itu baru diberi nama Skizofrenia oleh Eugen Bleuber 20 tahun kemudian.
Komunitas ini bisa diakses di http://peduli-skizofrenia.blogspot.com dan di FB dengan nama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia. Komunitas yang dibentuk sejak tahun 2000 silam telah memiliki anggota sebanyak 3.177 orang. Mereka tersebar dari berbagai pelosok daerah di Indonesia.
“Telepon saya juga selalu aktif untuk memberikan semacam pengetahuan tentang Skizofrenia,” ujar Bagus Utomo, pendiri KPSI.
Menurut Bagus, Skizofrenia merupakan penyakit yang mempengaruhi otak. Pada otak terjadi proses penyampaian pesan secara kimiawi (neurotransmitter) yang akan meneruskan pesan sekitar otak. Pada penderita Skizofrenia, produksi neurotransmitter-dopamin berlebihan, sedangkan kadar dopamin tersebut berperan penting pada perasaan senang dan pengalaman mood yang berbeda. Bila kadar dopamin tidak seimbang –berlebihan atau kurang– penderita dapat mengalami Skizofrenia.
Gejalanya bisa diketahui seperti mudah sedih, empati yang berlebihan, sensitif, mudah tersinggung, halusinasi, curiga yang berlebihan, waham (keyakinan yang salah) dan emosi yang meledak-ledak.
“Manusia adalah mahluk biologis sehingga antara mental dan fisik tidak bisa dipisahkan. Terganggunya fisik juga bisa membuat jiwanya mengalami gangguan,” papar Bagus.
Jadi, diharapkan dengan bergabung di komunitas ini semua orang bisa sharing, berbagi pengalaman, memberi motivasi dan belajar aspek medis (obat apa saja yang diperlukan untuk menangani Skizofrenia). Mengingat komunitas ini bersifat milis maka setiap empat bulan sekali mereka mengadakan ‘kopi darat.’
Karya Lukis
Nah, untuk menghindari atau mengatasi gejala skizofrenia, antara lain; belajar mananggulangi stres, depresi, pikiran negatif, belajar rileks dan tidak menggunakan alkohol ataupun obat-obatan tanpa sepengetahuan dokter, serta segera berkonsultasi ke dokter/ psikiater bila timbul gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas.
“Ciptakan keluarga dengan suasana kasih sayang, dengan cara mendengarkan pendapatnya dan memberikan pujian dan apresiasi,” kata Bagus.
Komunitas Peduli Skizofrenia dibentuk oleh Bagus Utomo setelah kakak kandungnya Bayu Sayekti mengalami Skizofrenia. Hampir 15 tahun dirinya mendampingi kakaknya tersebut, sehingga mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakitnya. Saat ini, kakaknya pun telah berangsur-angsur pulih dari penyakit Skizofrenia.
“Saya mau berbagi agar tidak terulang terhadap keluarga yang lain,” tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar