Rabu, 02 Maret 2011

KPSI, Untuk Kita yang Peduli Skizofrenia

KPSI foto bareng/ dokKPSI foto bareng/ dokSEDIKITNYA, ada sekitar 2 juta orang Indonesia yang mengalami penyakit Skizofrenia. Yakni, orang yang mengalami kepribadian yang terpecah, antara pikiran, perasaan dan prilakunya. Dalam artian, apa yang dilakukan tidak sesuai dengan pikiran dan perasaannya. Secara spesifik Skizofrenia adalah orang yang mengalami gangguan emosi, pikiran dan perilaku.

Banyaknya penderita Skizofrenia di Indonesia berdasarkan prevalensi 1-2 persen dari populasi penduduk Indonesia. Berdasarkan sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Agustus 2010, jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan.

Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo” yang artinya retak atau pecah (split), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan demikian, seseorang yang menderita Skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian. Skizofrenia sendiri baru ditemukan pada awal abad 18 oleh Benedict Morer. Dia menemukan orang yang seperti lupa segalanya, bersikap kekanak-kanakan. Namun, penyakit itu baru diberi nama Skizofrenia oleh Eugen Bleuber 20 tahun kemudian.

Logo KPSILogo KPSINah, bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jelas tentang penyakit yang bisa menyerang siapapun itu, kini ada sekelompok orang yang perduli terhadap penyakit tersebut dengan membentuk satu komunitas, yaitu Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI). Komunitas ini berbentuk paguyuban milis penderita Skizofrenia dan keluarganya untuk bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang Skizofrenia.

Komunitas ini bisa diakses di http://peduli-skizofrenia.blogspot.com dan di FB dengan nama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia. Komunitas yang dibentuk sejak tahun 2000 silam telah memiliki anggota sebanyak 3.177 orang. Mereka tersebar dari berbagai pelosok daerah di Indonesia.

Menggelar berbagai kegiatan..Menggelar berbagai kegiatan..Dengan bergabung di komunitas ini, maka kita bisa belajar lebih banyak tentang kesehatan mental. Selain itu, anggotanya juga bisa mematahkan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, bahwa Skizofrenia tidak bisa disembuhkan dan kesalahan-kesalahan lainnya yang menyangkut Skizofrenia tersebut.

“Telepon saya juga selalu aktif untuk memberikan semacam pengetahuan tentang Skizofrenia,” ujar Bagus Utomo, pendiri KPSI.

Menurut Bagus, Skizofrenia merupakan penyakit yang mempengaruhi otak. Pada otak terjadi proses penyampaian pesan secara kimiawi (neurotransmitter) yang akan meneruskan pesan sekitar otak. Pada penderita Skizofrenia, produksi neurotransmitter-dopamin berlebihan, sedangkan kadar dopamin tersebut berperan penting pada perasaan senang dan pengalaman mood yang berbeda. Bila kadar dopamin tidak seimbang –berlebihan atau kurang– penderita dapat mengalami Skizofrenia.

Bagus Utomo, sang pendiri KPSIBagus Utomo, sang pendiri KPSIAda beberapa faktor yang menyebabkan seseorang bisa menderita Skizofrenia, diantaranya adalah genetik, lingkungan, pengaruh psikososial, budaya, proses nutrisi dan pola asuh. Skizofrenia bisa menyerang pria pada akhir masa kanak-kanak atau awal usia 20-an, sedangkan pada wanita, usia 20-an atau awal 30-an.

Gejalanya bisa diketahui seperti mudah sedih, empati yang berlebihan, sensitif, mudah tersinggung, halusinasi, curiga yang berlebihan, waham (keyakinan yang salah) dan emosi yang meledak-ledak.

Mampu berkarya!Mampu berkarya!Krisis keuangan juga sangat berpotensi menimbulkan Skizofrenia. Karena kehilangan pekerjaan, usaha bangkrut dan rumah tangga yang tercerai berai bisa menjadi pemicunya. Intinya kapan seseorang tertekan, ketika harapannya tidak sesuai dengan kenyataan maka dia akan terkena Skizofrenia.

“Manusia adalah mahluk biologis sehingga antara mental dan fisik tidak bisa dipisahkan. Terganggunya fisik juga bisa membuat jiwanya mengalami gangguan,” papar Bagus.

Jadi, diharapkan dengan bergabung di komunitas ini semua orang bisa sharing, berbagi pengalaman, memberi motivasi dan belajar aspek medis (obat apa saja yang diperlukan untuk menangani Skizofrenia). Mengingat komunitas ini bersifat milis maka setiap empat bulan sekali mereka mengadakan ‘kopi darat.’

Karya Lukis
Melukis barengMelukis barengDalam kopi darat banyak kegiatan yang digelar, diantaranya menggelar kegiatan melukis untuk penderita Skizofrenia. Menurut Bagus, dengan kegiatan-kegiatan yang melibatkan para penderita Skizofrenia maka bisa memutus mitos dan stigma negatif tentang penyakit Skizofrenia.

Nah, untuk menghindari atau mengatasi gejala skizofrenia, antara lain; belajar mananggulangi stres, depresi, pikiran negatif, belajar rileks dan tidak menggunakan alkohol ataupun obat-obatan tanpa sepengetahuan dokter, serta segera berkonsultasi ke dokter/ psikiater bila timbul gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas.

“Ciptakan keluarga dengan suasana kasih sayang, dengan cara mendengarkan pendapatnya dan memberikan pujian dan apresiasi,” kata Bagus.

Komunitas Peduli Skizofrenia dibentuk oleh Bagus Utomo setelah kakak kandungnya Bayu Sayekti mengalami Skizofrenia. Hampir 15 tahun dirinya mendampingi kakaknya tersebut, sehingga mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakitnya.  Saat ini, kakaknya pun telah berangsur-angsur pulih dari penyakit Skizofrenia.

“Saya mau berbagi agar tidak terulang terhadap keluarga yang lain,” tandasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar