Andai saja ia lengah atau membiarkan terjadinya perusakan atau perambahan hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Maka, bisa dipastikan kawasan yang tersebut di atas akan habis dihantam banjir dan longsor. huh...gawat.
Sosok yang penuh tanggungjawab itu adalah Sumarto Suharno, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BKSDA TNGGP) Jawa Barat yang baru satu tahun menjabat. Kepada TNOL, ayah dari tiga anak hasil pernikahannya dengan Darmastuti Nugroho Sumarto ini begitu akrab menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan agar ekosistem di TNGGP tetap terjaga.
"Yang pertama saya lakukan di Taman Nasional ini adalah memperkuat penguasaan kawasan dengan penanaman pohon sebagai satu ekosistem," kata Sumarto dilokasi Gunung Gede Sabtu (27/2).
Dengan ekosistem yang terjaga maka akan ada keterikatan antara pohon dengan satwa di TNGGP. Semua pohon dari berukuran tinggi, sedang sampai yang kecil (pohon perdu) harus berfungsi sebagai satu ekosistem. "Itu pun tidak selesai dengan hanya tanam pohon, tapi kita harus membangun ekosistem," jelas lelaki yang hobi berpetualang, kemiliteran dan kepramukaan ini.
Menurut Sumarto, panggilan akrab lelaki kelahiran Surabaya, 8 Juli 1961 ini, TNGGP yang berada diketinggian 950-1500 m dpl merupakan salah satu ekosistem hutan hujan tropis terbaik di pulau Jawa. Selain itu, TNGGP juga merupakan Taman Nasional tertua di Indonesia.
Salah satu fungsi ekosistem Taman Nasional ini adalah sebagai sistem penyangga kehidupan, antara lain sebagai pengatur tata air bagi daerah di sekitar hingga daerah hilir. Kelestarian fungsi dari ekosistem ini mutlak dijaga karena secara langsung ataupun tidak akan sangat berpengaruh bagi kehidupan di kawasan sekitarnya yaitu Jakarta, Bogor, Bekasi, Bandung, Cianjur dan Sukabumi.
Agar ekosistem di TNGGP tetap terjaga, sambung lelaki yang juga hobi menyelam ini. Maka sejak 2003 kawasan TNGGP diperluas 7.655 hektar dari semula luasnya hanya 15.190 hektar. Sehingga saat ini luas TNGGP menjadi 22. 851 hektar. "Inilah kebanggaan bangsa Indonesia hutan tropis pegunungan, seperti inilah yang menyangga kehidupan 37 juta masyarakat yang berada di hilirnya," tegas lulusan S2 Magister Manajemen Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta ini.
Sumarto dan Adhyaksa menanam pohon/ Foto: SafariTerkait dengan Vana Prastha, organisasi pecinta alam yang digagas mantan Menegpora Adhyaksa Dault mengadakan kegiatan di TNGGP, Sumarto berharap agar Vana Prastha bisa berbagi tugas dengan Departemen Kehutanan khususnya TNGGP untuk bersama – sama melaksanakan kegiatan alam terbuka di zona pemanfaatan di Gunung Putri yang luasnya 54 hektar.
"Jadi saya tawarkan dan saya ajak. Itulah potensi – potensi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang bisa kita kerjakasamakan," tuturnya.
Selain menyangga kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya, saat ini TNGGP memproduksi 231 milyar liter air/tahun. Bila perluasan hutan sudah dilaksanakan dan ekosistem tetap terjaga maka produksi air di TNGGP bisa mencapai 350 miliar/tahun. Saat ini TNGGP mempunyai amanah untuk menggerakkan turbin – turbin yang ada di 5 PLTA, yaitu Jatiluhur, Saguling, Cirata, Cimandiri dan Cisoka.
"Jadi hampir semua PLTA yang ada di Jawa Barat ini kebutuhan airnya ada di TNGGP. Itulah potensi yang besar," jelas lelaki lulusan S-1 Kehutanan IPB, Bogor ini memastikan.
TNGGP yang bisa memproduksi air bermilyar - milyar liter tersebut, karena satu pohon di TNGGP bisa menghasilkan 2.500 galon air. Selain itu, satu pohon di TNGGP minimal bisa menghidupkan 2 orang. "Jadi itulah potensi yang besar. Maka yang paling utama di daerah hulu ini bisa menampung air hujannya dengan maksimal," tegasnya.
Namun, lanjut Sumarto, daerah hulu yang ditengah – tengahnya ada pemukiman berupa vila – vila, kebun teh ini kurang bisa menyerap air dalam tanah. Oleh karena itu sejak tahun 2003 Dephut melakukan perluasan hutan dengan menambah luas sebanyak 7.650 hektar sehingga luasnya menjadi 22.851 hektar. Tahun 2010 akan diperluas lagi sebanyak 3000 hektar. Perluasan kawasan ini untuk menaman pohon supaya rapat seperti ekosistem hutan pegunungan."Selain itu, kita juga melakukan restorasi yaitu pemulihan kawasan hutan menjadi ekosistem semula sebagai hutan tropis pegunungan," tandasnya.
"Yang pertama saya lakukan di Taman Nasional ini adalah memperkuat penguasaan kawasan dengan penanaman pohon sebagai satu ekosistem," kata Sumarto dilokasi Gunung Gede Sabtu (27/2).
Dengan ekosistem yang terjaga maka akan ada keterikatan antara pohon dengan satwa di TNGGP. Semua pohon dari berukuran tinggi, sedang sampai yang kecil (pohon perdu) harus berfungsi sebagai satu ekosistem. "Itu pun tidak selesai dengan hanya tanam pohon, tapi kita harus membangun ekosistem," jelas lelaki yang hobi berpetualang, kemiliteran dan kepramukaan ini.
Menurut Sumarto, panggilan akrab lelaki kelahiran Surabaya, 8 Juli 1961 ini, TNGGP yang berada diketinggian 950-1500 m dpl merupakan salah satu ekosistem hutan hujan tropis terbaik di pulau Jawa. Selain itu, TNGGP juga merupakan Taman Nasional tertua di Indonesia.
Salah satu fungsi ekosistem Taman Nasional ini adalah sebagai sistem penyangga kehidupan, antara lain sebagai pengatur tata air bagi daerah di sekitar hingga daerah hilir. Kelestarian fungsi dari ekosistem ini mutlak dijaga karena secara langsung ataupun tidak akan sangat berpengaruh bagi kehidupan di kawasan sekitarnya yaitu Jakarta, Bogor, Bekasi, Bandung, Cianjur dan Sukabumi.
Agar ekosistem di TNGGP tetap terjaga, sambung lelaki yang juga hobi menyelam ini. Maka sejak 2003 kawasan TNGGP diperluas 7.655 hektar dari semula luasnya hanya 15.190 hektar. Sehingga saat ini luas TNGGP menjadi 22. 851 hektar. "Inilah kebanggaan bangsa Indonesia hutan tropis pegunungan, seperti inilah yang menyangga kehidupan 37 juta masyarakat yang berada di hilirnya," tegas lulusan S2 Magister Manajemen Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta ini.
"Jadi saya tawarkan dan saya ajak. Itulah potensi – potensi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang bisa kita kerjakasamakan," tuturnya.
Selain menyangga kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya, saat ini TNGGP memproduksi 231 milyar liter air/tahun. Bila perluasan hutan sudah dilaksanakan dan ekosistem tetap terjaga maka produksi air di TNGGP bisa mencapai 350 miliar/tahun. Saat ini TNGGP mempunyai amanah untuk menggerakkan turbin – turbin yang ada di 5 PLTA, yaitu Jatiluhur, Saguling, Cirata, Cimandiri dan Cisoka.
"Jadi hampir semua PLTA yang ada di Jawa Barat ini kebutuhan airnya ada di TNGGP. Itulah potensi yang besar," jelas lelaki lulusan S-1 Kehutanan IPB, Bogor ini memastikan.
TNGGP yang bisa memproduksi air bermilyar - milyar liter tersebut, karena satu pohon di TNGGP bisa menghasilkan 2.500 galon air. Selain itu, satu pohon di TNGGP minimal bisa menghidupkan 2 orang. "Jadi itulah potensi yang besar. Maka yang paling utama di daerah hulu ini bisa menampung air hujannya dengan maksimal," tegasnya.
Namun, lanjut Sumarto, daerah hulu yang ditengah – tengahnya ada pemukiman berupa vila – vila, kebun teh ini kurang bisa menyerap air dalam tanah. Oleh karena itu sejak tahun 2003 Dephut melakukan perluasan hutan dengan menambah luas sebanyak 7.650 hektar sehingga luasnya menjadi 22.851 hektar. Tahun 2010 akan diperluas lagi sebanyak 3000 hektar. Perluasan kawasan ini untuk menaman pohon supaya rapat seperti ekosistem hutan pegunungan."Selain itu, kita juga melakukan restorasi yaitu pemulihan kawasan hutan menjadi ekosistem semula sebagai hutan tropis pegunungan," tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar