Banyak mata tak berkedip ketika menyaksikan permainan biolanya. Tepuk tangan pun langsung membahana ketika dirinya usai membawakan beberapa instumen lagu. Bahkan, ada diantara penonton yang meminta untuk mengulangi lagi instrumen lagu yang dimainkan begitu baik olehnya.
Lelaki yang membawakan biola dengan sangat piawai itu adalah Didiet. Tentu, ia juga tak asing dalam seni musik ini. Karena sebelumnya, ia dikenal sebagai pemain biola cilik. Dan, dalam konser ‘Kaki Langit’ Didiet dipertemukan dengan Jubing Kristianto untuk berkolaborasi membawakan beberapa instrumen lagu yang membius. Seperti Mission Imposible, Winter Games, Untukku Selamanya, dan Rondo Alla Turca.
Jelas sekali kepiawaian Didiet, alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) jurusan musik ini memang telah dipupuk sejak kecil oleh Joko Wahono (alm) ayahnya yang guru biola di Perguruan Cikini Jakarta.
Kecintaannya bermain biola semakin melekat ketika ayahnya yang dalam kondisi keuangan serba pas-pasan membelikan biola dengan harga Rp 260 ribu kepadanya. Sementara, uang yang dimiliki ayahnya saat itu hanya Rp 300 ribu. Kala itu, ayahnya membelikan biola merk Skylark ukuran ¼.
“Akhirnya dengan sisa uang 40 ribu rupiah dipakai ayah saya hingga habis bulan,” ujar Didiet kepada TNOL mengenang pengorbanan ayahnya.
Melihat ayahnya yang rela mengantongi uang sebesar Rp 40 ribu untuk hidup sebulan membuat Didiet kecil bersumpah untuk belajar main biola dengan sungguh-sungguh. Dengan gemblengan sang ayah, akhirnya Didiet berhasil mengolah berbagai teknik memainkan biola dengan baik.
Saat ini berbagai biola pun telah dimiliki Didiet, diantaranya adalah Copy Stradivari ukuran ½, tanpa merk ukuran ¾, Yamaha, Guarnerius, Amati dan Steiner. Biola tersebut harganya dari ratusan ribu hingga puluhan juta, seperti Steiner yang mencapai Rp 25 juta.
Setelah itu, Didiet kerap mengisi berbagai acara kenegaraan seperti HUT RI di Istana Negara. Terhitung dari HUT RI yang ke- 49 hingga 55 tahun. Ia selalu tampil di Istana Negara untuk membawakan beberapa lagu-lagu wajib diantaranya lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Selain itu saya juga mengisi acara setiap Hari Kesaktian Pancasila di Museum Lubang Buaya,” ungkap lelaki kelahiran Magelang, 22 Mei 1986 ini bangga.
Memainkan biola, sambung Didiet seperti sudah masuk ke dalam jiwa dan raganya. Oleh karena itu, alat musik gesek yang terbilang sulit untuk dimainkan ini kerap dimainkannya setiap hari. Sehari saja tidak memainkan biola, hidupnya serasa tak bersemangat. Otomatis membuatnya malas untuk melakukan berbagai aktivitas yang lain.
“Dengan biola saya bisa curhat, seperti patah hati atau bete. Hati saya terasa tenang ketika memainkan biola ini. Pokoknya, segala kesusahan hati akan hilang ketika memainkan biola,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara ini meyakinkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar