Jumat, 11 Maret 2011

Odong-odong Travelers, Clubnya Penjelajah Wisata

Pada awalnya, komunitas ini dipandang sebelah mata. Apalagi, jika dilihat dari nama  komunitasnya yang menggunakan nama Odong-Odong, yakni salah satu alat permainan yang kerap digunakan anak-anak.
Namun, setelah melihat eksistensinya dalam menjelajahi berbagai obyek wisata yang ada di negeri ini, maka pandangan sebelah mata itu mulai berbalik menjadi pujian.

Komunitas penjelajah berbagai obyek wisata itu adalah Odong-Odong Travelers (OOT). Komunitas ini dibentuk oleh lima anak muda bernama Amri, Kristian, Dody Mulyana, Nopi dan Aris saat akan mengunjungi objek wisata berhawa dingin di Dieng Wonosobo Jawa Tengah tahun 2009.

Namun secara resmi komunitas Odong-Odong Travelers terbentuk ketika anggota komunitas ini mengunjungi objek wisata Gunung Bromo Jawa Timur pada Juni 2009. Saat itu, anggota komunitas yang ikut dalam perjalanan ke Bromo membentangkan spanduk Odong-Odong Travelers yang bergambar becak odong-odong dengan warna dasar kuning.

dokdok“Itulah awal diresmikannya Odong-Odong Traveles,” kata Lathiful Amri, Ketua Odong-Odong Travelers saat ditemui TNOL kemarin.

Seiring berjalannya waktu, anggota komunitas semakin berkembang. Saat ini anggota Odong-Odong Travelers yang terdiri dari berbagai profesi seperti pengusaha, pengacara, dokter, karyawan dan mahasiswa ini sudah mencapai 400 orang. Namun, anggota yang benar-benar aktif artinya kerap mengikuti berbagai kegiatan traveling mencapai 90 orang.
Komunitas ini telah mengujungi berbagai objek wisata baik yang berada di Pulau Jawa hingga Sumatera. Tercatat sudah puluhan tempat objek wisata yang telah dijelajahi komunitas ini. Dari pinggir pantai bahkan ke dasar laut hingga ke daratan paling atas yakni pegunungan telah disambangi.

Diantara objek wisata yang pernah dikunjungi adalah Pantai Anyer, Museum Prasasti Bogor, Gunung  Pangrango, Gunung Bromo, Gunung Kelud dan Bangka Belitung.
Selalu ceria...Selalu ceria...
Komunitas ini berbeda dengan agen perjalanan wisata. Karena dalam komunitas lebih mengutamakan kekompakan. Penentuan objek wisata juga disesuaikan dengan kesepakatan bersama. Biasanya penentuan objek wisata yang akan dikunjungi pada perjalanan berikutnya didiskusikan saat sesi foto bersama ketika mengunjungi objek wisata.

Diskusi juga menyangkut tanggal keberangkatan, ongkos yang diperlukan dan siapa yang menjadi bendahara. Karena sudah menjadi kesepakatan bersama, maka apapun masalah yang terjadi di lapangan seperti penginapan, makan dan lainnya menjadi tanggung jawab bersama.

“Walaupun objek wisata yang dikunjungi tidak sesuai yang kita harapkan tapi kalau orang-orangnya sudah asyik maka itu sudah terbalas,” jelas Amri.

Selain itu, sambung Amri, sebagaimana komunitas backpacker maka Odong-Odong Travelers juga tidak mengambil keuntungan. Jika ada dana yang tersisa saat mengunjungi objek wisata, maka dana tersebut langsung dibagikan ke semua anggota. Misalnya ketika mengunjungi objek wisata kesepakatan ongkosnya mencapai Rp 200 ribu. Namun, dalam perjalanannya ongkos tersebut ternyata lebih. Maka, kelebihan ongkos tersebut langsung dibagikan ke semua anggota.

“Kita ini sifatnya tidak terikat dan ada rasa kebersamaan. Jika misalnya si A sakit, kita juga jenguk. Si A ulang tahun, kita juga rayakan. Bahkan, kita juga pernah memberi sumbangan berupa pakaian dan logistik ke korban Gunung Merapi,” ujarnya.


Filosofi  Odong-Odong
Terus berpetualang..Terus berpetualang..Sementara itu terkait dengan nama odong-odong yang menjadi komunitas tersebut, Joedy Atnowo, Wakil Ketua Odong-Odong Travelers mengatakan, dipilihnya nama odong-odong karena di balik kata odong-odong itu ada filosofi tersendiri. Sedikitnya ada tiga filosofi dalam odong-odong, pertama, odong- odong merupakan permainan yang paling dinantikan anak kecil.

Kedua, odong-odong merupakan permainan yang murah meriah (karena dengan uang Rp 1000,- bisa menikmati permainan tersebut dengan durasi tiga lagu) sehingga sangat terjangkau oleh orang tua. Ketiga, pemilik odong-odong akan tersenyum bahagia sehingga dengan ikhlas  mengayuh pedal demi melihat senyum- senyum anak kecil yang kegirangan.

“Permainan odong-odong juga membuat addicted (ketagihan) setiap anak kecil,” jelasnya.

DokDokFilosofi odong-odong itulah, sambung Joedy, diterapkan dalam Komunitas Odong-Odong Travelers yaitu untuk membuat traveling yang seru tidak harus mahal cukup dengan sharing cost bersama, melangkah bersama, bahagia bersama. Oleh karena itu, Odong-Odong Travelers selalu dinantikan yang di istilahkan PMS ( pre melancong syndrom) sehingga setiap pulang nge-trip selalu membuat addicted alias ketagihan.

Nah, jika Anda ingin bergabung dengan Odong-Odong Travelers juga mudah. Minimal satu kali ikut dalam traveling maka sudah dianggap tergabung dalam Odong-Odong Travelers. Tapi, untuk bisa ikut traveling harus sering kopdar. Biasanya mereka kopdar di Seven Eleven Mampang dan Pasar Festival Kuningan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar