Namun, setelah melihat eksistensinya dalam menjelajahi berbagai obyek wisata yang ada di negeri ini, maka pandangan sebelah mata itu mulai berbalik menjadi pujian.
Komunitas penjelajah berbagai obyek wisata itu adalah Odong-Odong Travelers (OOT). Komunitas ini dibentuk oleh lima anak muda bernama Amri, Kristian, Dody Mulyana, Nopi dan Aris saat akan mengunjungi objek wisata berhawa dingin di Dieng Wonosobo Jawa Tengah tahun 2009.
Namun secara resmi komunitas Odong-Odong Travelers terbentuk ketika anggota komunitas ini mengunjungi objek wisata Gunung Bromo Jawa Timur pada Juni 2009. Saat itu, anggota komunitas yang ikut dalam perjalanan ke Bromo membentangkan spanduk Odong-Odong Travelers yang bergambar becak odong-odong dengan warna dasar kuning.
Seiring berjalannya waktu, anggota komunitas semakin berkembang. Saat ini anggota Odong-Odong Travelers yang terdiri dari berbagai profesi seperti pengusaha, pengacara, dokter, karyawan dan mahasiswa ini sudah mencapai 400 orang. Namun, anggota yang benar-benar aktif artinya kerap mengikuti berbagai kegiatan traveling mencapai 90 orang.
Komunitas ini telah mengujungi berbagai objek wisata baik yang berada di Pulau Jawa hingga Sumatera. Tercatat sudah puluhan tempat objek wisata yang telah dijelajahi komunitas ini. Dari pinggir pantai bahkan ke dasar laut hingga ke daratan paling atas yakni pegunungan telah disambangi.
Diantara objek wisata yang pernah dikunjungi adalah Pantai Anyer, Museum Prasasti Bogor, Gunung Pangrango, Gunung Bromo, Gunung Kelud dan Bangka Belitung.
Komunitas ini berbeda dengan agen perjalanan wisata. Karena dalam komunitas lebih mengutamakan kekompakan. Penentuan objek wisata juga disesuaikan dengan kesepakatan bersama. Biasanya penentuan objek wisata yang akan dikunjungi pada perjalanan berikutnya didiskusikan saat sesi foto bersama ketika mengunjungi objek wisata.
Diskusi juga menyangkut tanggal keberangkatan, ongkos yang diperlukan dan siapa yang menjadi bendahara. Karena sudah menjadi kesepakatan bersama, maka apapun masalah yang terjadi di lapangan seperti penginapan, makan dan lainnya menjadi tanggung jawab bersama.
“Walaupun objek wisata yang dikunjungi tidak sesuai yang kita harapkan tapi kalau orang-orangnya sudah asyik maka itu sudah terbalas,” jelas Amri.
Selain itu, sambung Amri, sebagaimana komunitas backpacker maka Odong-Odong Travelers juga tidak mengambil keuntungan. Jika ada dana yang tersisa saat mengunjungi objek wisata, maka dana tersebut langsung dibagikan ke semua anggota. Misalnya ketika mengunjungi objek wisata kesepakatan ongkosnya mencapai Rp 200 ribu. Namun, dalam perjalanannya ongkos tersebut ternyata lebih. Maka, kelebihan ongkos tersebut langsung dibagikan ke semua anggota.
“Kita ini sifatnya tidak terikat dan ada rasa kebersamaan. Jika misalnya si A sakit, kita juga jenguk. Si A ulang tahun, kita juga rayakan. Bahkan, kita juga pernah memberi sumbangan berupa pakaian dan logistik ke korban Gunung Merapi,” ujarnya.
Filosofi Odong-Odong
Kedua, odong-odong merupakan permainan yang murah meriah (karena dengan uang Rp 1000,- bisa menikmati permainan tersebut dengan durasi tiga lagu) sehingga sangat terjangkau oleh orang tua. Ketiga, pemilik odong-odong akan tersenyum bahagia sehingga dengan ikhlas mengayuh pedal demi melihat senyum- senyum anak kecil yang kegirangan.
“Permainan odong-odong juga membuat addicted (ketagihan) setiap anak kecil,” jelasnya.
Nah, jika Anda ingin bergabung dengan Odong-Odong Travelers juga mudah. Minimal satu kali ikut dalam traveling maka sudah dianggap tergabung dalam Odong-Odong Travelers. Tapi, untuk bisa ikut traveling harus sering kopdar. Biasanya mereka kopdar di Seven Eleven Mampang dan Pasar Festival Kuningan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar