Rabu, 02 Maret 2011

Antonius 'Toos' Sempat Dilarang Jadi Pilot

Capt Pilot Antonius Toos Sanitioso dan helikopter yang kerap dibawanya/ Foto: Safari TNOL Capt Pilot Antonius Toos Sanitioso dan helikopter yang kerap dibawanya/ Foto: Safari TNOL BIASANYA orang tua akan merujuk sebuah profesi yang setinggi – tingginya untuk buah hatinya. Hal itu dilakukan agar profesi yang ditekuni dan dicita-citakan sang anak tidak membuatnya menyesal di kemudian hari. 
 
Namun, hal ini berbeda dengan Capt Antonius " Toos " Sanitioso, Direktur PT Air Pasifik Utama, yang cita – citanya menjadi pilot justru tidak disetujui orang tuanya.

Alasannya sederhana banget, menjadi pilot tidak aman untuk dirinya yang terlahir sebagai anak lelaki satu – satunya."Karena saya satu – satunya anak lelaki maka orang tua enggak setuju. Saya malah diminta untuk mencari pekerjaan yang lebih safe. Waktu itu orang tua menyarankan saya jadi insinyur," kata Capt Antonius Toos Sanitioso mengawali pembicaraan dengan TNOL di Base Operation Heliport Lippo Karawaci Tangerang Banten, awal Juni kemarin.

Cita – citanya menjadi pilot akhirnya tercapai setelah melalui berbagai lika – liku dan rintangan yang mengesankan. Kini, ia bahkan menduduki jabatan yang penting yakni sebagai test pilot - seorang pilot spesialis yang menguji layak tidak nya prototype pesawat untuk sertifikasi layak terbang. Hebatnya, ternyata jumlah tes pilot di tanah air bisa dihitung dengan jari .

Pantau perkembangan dengan notebook berfasilitas internet/ Foto: SafariPantau perkembangan dengan notebook berfasilitas internet/ Foto: SafariAntonius Toos Sanitioso yang berlatar pendidikan teknik sipil dari Universitas Parahyangan Bandung, sebenarnya pernah bekerja dibidang teknik sipil selama 8 tahun. Ia bekerja di teknik sipil sebagai salah satu langkah mengikuti orang tua.

Toos, panggilan akrab ayah dua putri hasil pernikahannya dengan Irene Anggraeni ini menjadi pilot berawal ketika ditawari untuk bekerja di perusahaan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada tahun 1980-an. Sejak itulah, profesi Toos berubah 180 derajat. Di IPTN, ia menduduki posisi sebagai Experimental/ Production Test Pilot (Fixed/Rotary Wing).

Untuk menambah pengalaman sebagai test pilot, berbagai pendidikan pun dijalani diantaranya adalah menempuh pendidikan di Sierra Academy of Aeronautics-California-USA, Flight Safety Academy-Florida-USA dan International Test Pilot School-Cranfield- UK. Berbekal pendidikan itulah Toos mengabdikan dirinya menjadi segelintir tes pilot yang memegang dua lisensi sekaligus, untuk Rotary Wing helikopter dan Fixed Wing pesawat terbang secara penuh.

Berbagai jenis helicopter buatan IPTN pun pernah ia bawa diantaranya Puma dan Bell 412. Tidak heran, berbagai pengalaman ia dapatkan diantaranya, Experimental/ Production Test Pilot (Fixed/Rotary wing), Indonesian Aerospace Industries (Iae ), Chief Test Pilot and VP Flight Test Center Iae 1997-2005 dan Air Safety Investigator NTSC 1999-2010.

"Tapi jam terbang saya tidak banyak, masih dibawah 6000 karena saya kerja untuk factory. Kalau teman – teman yang kerja di offshore itu pasti puluhan ribu karena mereka terbang intensif," jelas Toos merendah yang sudah 10 tahun berkarir sebagai test pilot ini.

Hasrat sejak kecil
Bersama kolega/ Foto: SafariBersama kolega/ Foto: SafariMenjadi test pilot, sambung Toos, merupakan hasratnya sejak kecil. Karena test pilot merupakan penggabungan dua bidang yakni penerbangan dan engineering. Hal ini berbeda dengan penerbangan airline yang tidak ada unsur engineringnya.

"Ini menantang sekali, konten aspek engeneringnya tinggi. Selain itu unsur terbangnya juga ada. Jadi ini menarik sekali. Jadi saya menikmati kerja sebagai test pilot karena bisa mengkombinasikan dua dunia," tegas lelaki yang hobi makan sate ini.

Selama mengabdi di IPTN, Toos juga melayani penerbangan VIP untuk Profesor BJ Habibie. Selama 17 tahun, Toos mendampingi BJ Habibie hingga akhirnya fungsi tugas penerbangan diambil alih Skuadron 17 ketika Habibie menjadi wakil presiden mendampingi Soeharto. Kala itu, Toos sampai menangani tiga helikopter yakni BO 165, BK 117, dan BEL 430.

Walaupun berbeda keyakinan, banyak pengalaman manis yang didapat Toos selama melayani BJ Habibie. Diantaranya adalah selalu terlibat dalam kegiatan ICMI dimanapun berada. Selain itu hampir seluruh pesantren yang ada di Nusantara pernah ia kunjungi bersama BJ Habibie.
Masih terlihat gagah/ Foto: Safari Masih terlihat gagah/ Foto: Safari
"Saya juga kenal dengan sejumlah kyai. Itu yang sangat berkesan. Secara pribadi, ada juga kedekatan dengan Ibu Ainun," ungkap lelaki yang rendah hati ini.

Sementara pada bidang penerbangan yang paling berkesan adalah saat keliling dunia dengan CN 235 selama dua bulan untuk mendapatkan sertifikasi pesawat tersebut. Bersama CN 235, Toos terbang sekitar 120 jam. Penerbangan diawali dari Vietnam, Taiwan, Korea, Jepang, Rusia, Alaska, Kanada, Kutub Utara dan Skotlandia. Dan kembali melewati Budapest, Khazastan, China hingga akhirnya sampai di Bandung.

"Itu pada tahun 1999 – 2000, saat melakukan uji terbang untuk lisensi CN 235 karena saat itu kita mau mengirim pesawat CN 235 ke Malaysia dan Korea," jelas Toos yang pensiun dari IPTN tahun 2006.

Tapi, tidak selamanya pengalaman manis didapat Toos, pengalaman pahit pun pernah dialaminya. Itu terjadi pada tanggal 23 April 1982 saat helikopternya mengalami kecelakaan hebat di daerah Manado Sulawesi Utara. Selama satu pekan, Toos harus dirawat di RS.

"Terus terang saja saya berpartner dengan crew yang temperamennya tinggi. Itu memperangaruhi karena bagaimana bisa menghandle pesawat kalau marah – marah. Tapi itu merupakan tantangan sebagai test pilot," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar