Rabu, 23 Maret 2011

Mak Gambreng, Bangga 60 Tahun Jualan Pecel

Setia pada profesi atau karena tiada kesempatan lain? Tapi yang penting, ia bisa hidup.

Mak Gambreng memijit penumpang (Foto: Istimewa)Mak Gambreng memijit penumpang (Foto: Istimewa)KERETA Api Ekomomi Tegal Arum sepertinya sudah menjadi tambatan hati bagi perempuan sepuh ini. Betapa tidak, hampir 60 tahun Wastiyah alias Mak Gambreng (75) mengais rejeki di kereta api jurusan Stasiun Kota-Tegal ini dengan berjualan pecel. Bahkan kini, dua anaknya, Wastiah dan Satiyah mengikuti jejaknya sebagai pedagang pecel.

Namun, kalau Satiyah cukup berjualan di rumah, Wastiah justru mengikuti jejak ibunya, berdagang di kereta.
Biasanya jika kereta api dari Tegal menuju ke Stasiun Kota Jakarta maka Mak Gambreng akan naik dari Stasiun Haurgeulis dan jika dagangannya habis akan turun di Stasiun Karawang. Sementara jika kereta api dari Stasiun Kota Jakarta menuju ke Tegal maka Mak Gambreng akan naik dari Stasiun Karawang dan turun di Stasiun Haurgeulis.
Mak Gambreng mengolah pecel (Foto: Istimewa)Mak Gambreng mengolah pecel (Foto: Istimewa)
Habis atau tidak dagangan pecelnya maka Mak Gambreng akan turun di Stasiun Haurgeulis. Dan, Mak Gambreng harus beristirahat sehingga esok harinya bisa berjualan kembali agar penumpang kereta Tegal Arum bisa menikmati dagangannya keesokan harinya.

Menurut Mak Gambreng semua jenis dagangan yang dijualnya yang memasak adalah anak pertamanya yang bernama Kastiah, dan Mak Gambrenglah yang siap menjajakannya di kereta api. Biasanya Mak Gambreng sudah siap di stasiun sekitar pukul 09.00 dan kembali ke rumah sekitar pukul 20.00 WIB.

“Dulu yang masih memang saya, tapi sekarang anak saya karena jam 10 kan kereta dari Tegal sudah datang di stasiun,” kata Mak Gambreng dengan logat Cirebonan-nya.

Bagi penumpang kereta yang acap pulang pergi Jakarta-Tegal, keberadaan Mak Gambreng sudah tak asing lagi. Bahkan bagi yang terbiasa mengkonsumsi pecel Mak Gambreng pasti akan merindukannya.

Bangga Anak Gemuk
Stasiun kereta api (Foto: Istimewa)Stasiun kereta api (Foto: Istimewa)Mak Gambreng berjualan sejak usia 15 tahun atau usai melahirkan anak pertamanya, Kastiah. Mak Gambreng menuturkan, walaupun sudah puluhan tahun berjualan pecel namun belum banyak materi yang berhasil dikumpulkan. Maklum, keuntungan yang didapat seharinya berkisar Rp 75.000 dari modal Rp 200.000.

Kediamannya pun masih berupa rumah ala kadarnya, tidak seperti tetangga lainnya yang bentuk rumahnya sudah mewah dan lux. Anak-anaknya juga tidak ada yang menempuh pendidikan tinggi. Paling tinggi pendidikan tertinggi anak-anaknya hanya sekolah dasar (SD).

Saat ini Mak Gambreng memiliki 10 anak dari hasil pernikahannya dengan Tasman yang bertugas menjadi Ketua Rukun Tetangga (RT) di kampungnya. Sepuluh anak tersebut terdiri dari tujuh perempuan dan tiga laki-laki. Anak pertama dan kedua yang bernama Kastiah dan Satiah yang mengikuti jejaknya berjualan pecel. Sedangkan lainnya, memiliki usaha lain kecil-kecilan dan ada juga yang menjadi buruh.
Meski banyak menghasilkan anak, Mak Gambreng merasa senang. Karena sepuluh anak-anaknya lahir normal dan sehat. Bahkan saat ini postur tubuh anak-anaknya besar-besar seperti layaknya orang yang serba berkecukupan. “Anak-anak saya gede-gede semuanya dan sehat,” tegasnya.

Jadi tukang pijat
Pecel Mak Gambreng (Foto: Istimewa)Pecel Mak Gambreng (Foto: Istimewa)Selain sebagai tukang pecel ternyata Mak Gambreng juga bisa memijat, maka jika ada yang ingin memanfaatkan jasanya, dia pun bersedia. "Lumayan untuk tambahan," katanya. Bahkan, jasanya ini pun telah ditawarkan di kereta api dan beberapa orang telah mengenalnya.

Awalnya, memang secara tak sengaja yakni seorang penumpang mendadak pingsan. Mak Gambreng langsung menolong dengan memijat-mijat tubuhnya, ternyata tak berapa lama penumpang itu sadar, ternyata dia kelelahan.
Ongkos untuk memijat serelanya tergantung keikhlasan dari penumpang.

Ia tidak memasang tarif. “Terserah mau ngasinya. Saya tidak mematok untuk tarif pijat,” tandasnya.
Nah, bagi Anda yang ingin merasakan lezatnya pecel dan menikmati  sensasi pijatan dari tangan Mak Gambreng, cobalah untuk naik kereta api Tegal Arum. Dijamin, dua kenikmatan itu bisa didapat secara bersamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar