Kamis, 10 Maret 2011

Patung Primitif Ala Subarjan ke Mancanegara

Foto: Safari SidakatonFoto: Safari SidakatonJika Anda biasa melewati Jl Casablanca menuju Tanah Abang Jakarta Pusat mungkin tidak asing lagi dengan keberadaan gerai yang menjual aneka ragam patung dari bahan kayu. Gerai patung ini terletak disisi kiri Jl Casablanca depan Komplek Makam Karet Kuningan atau 500 meter sebelum terowongan Casablanca.

 Di gerai tersebut terpajang beranekaragam, jenis dan ukuran patung kayu baik yang berbentuk wajah dan potongan tubuh manusia dan binatang.  Pemilik gerai patung ini adalah Subarjan (64). Sejak tahun 1988 atau tepatnya sejak Jl Casablanca diresmikan, ia sudah mangkal disisi jalan tersebut. Namun saat itu ia belum maksimal membuat dan menjual patung.

Dia betul – betul menekuni profesi sebagai pembuat dan penjual patung setelah resign sebagai driver warga negara asing. Subarjan menjadi supir sejak tahun 1959 – 1995. Berbagai macam kendaraan mewah seperti BMW, Mercy dan Audi pernah dikendarainya. Pergaulannya dengan warga negara asing juga membuat Subarjan menguasai bahasa Inggris secara pasih.

Pak Subarjan di depan hasil karyanya, cukup diletakkan di trotoar Jalan Casablanca, Kuningan, Jaksel. [Foto: Safari Sidakaton]Pak Subarjan di depan hasil karyanya, cukup diletakkan di trotoar Jalan Casablanca, Kuningan, Jaksel. [Foto: Safari Sidakaton]“Kerja yang merdeka, tidak diperintah, tidak digaji ya kerjaan seperti ini,” kata Subarjan mengawali pembicaraan  sambil menunjukkan patung karyanya medio Juli kemarin.

Menjadi pematung, sambung Subarjan, juga jauh dari perbuatan – perbuata tercela lainnya seperti korupsi yang saat ini sedang marak dan menjadi budaya di Indonesia. Oleh karena itu, Subarjan sangat menikmati profesi barunya tersebut. Apalagi, ia termasuk bukan dari golongan ekonomi menengah ke atas sehingga ketika posisinya sedang di bawah tidak mengalami shock.

“Saya kan awalnya orang miskin, jadi tidak kaget ketika menekuni profesi ini. Yang penting saya dan keluarga senang sehingga hasil jerih payahnya menjadi daging,” papar lelaki kelahiran Jogjakarta, 12 April 1946 ini.

Subarjan mengakui, dengan membuat patung juga bisa menghibur hati. Karena, ide yang ada dalam benaknya bisa langsung dituangkan dalam bentuk karya patung. Selain itu, dengan membuat patung juga tidak sempat memikirkan perbuatan orang lain. Hal inilah yang membuat kakek dua cucu ini  yang usianya yang sudah sepuh ini masih terlihat sehat dan enerjik.

“Dari pada mikirin orang lain menjadi sakit badan. Lebih baik memahat kayu menjadi patung,” jelas ayah dari tujuh anak ini.

Foto: Safari SidakatonFoto: Safari SidakatonMengenai keahliannya membuat patung, Subarjan mengakui, hal tersebut diperoleh dari tekadnya yang bulat. Pada awalnya ia sempat sangsi dengan kemampuannya membuat patung.  Tapi ketika patung sudah terbentuk ia malah takjub karena ternyata dirinya bisa membuat patung.  Patung pertama yang dibuatnya adalah dalam bentuk buaya berukuran 4 meter.

Saat masih menjadi supir, membuat patung dilakukan dikala waktu senggang usai mengantar bosnya. Ia mengerjakan kerajinan membuat patung di rumahnya dibilangan daerah Pal Batu III/14 Menteng Dalam Jakarta Selatan. Bahkan untuk menambah wawasan dalam membuat patung, studi bandingpun dilakukan di antaranya ke Papau, Kalimantan dan Bali.

Kini beragam patung telah dibuat Subarjan di antaranya dalam bentuk binatang dan wajah orang dalam beragam ekspresi. Hasil karyanya bahkan telah menembus mancanegara, seperti ke Australia, Jerman, Belanda, Meksiko, Denmark, Jepang dan China. Orang asing tersebut membeli patung karya Subarjan berdasarkan info dari mulut ke mulut dan dari surat kabar asing.

“Patung topeng buatan saya malah ada yang borong 100 pcs sama orang Meksiko,” ungkapnya.

Patungkayu-5Patungkayu-5Sementara mengenai harga setiap patung yang dijualnya, Subarjan mengaku tidak menetapkan besaran tarif. Ia menjual sesuai kemampuan pembelinya. Jika ada yang berminat Rp 200 ribu atau Rp 300 ribu atau Rp 1 juta maka akan diberikan. Prinsipnya ia menjual patung tersebut kepada orang yang tepat atau istilahnya the right man on the right place. Ini sesuai dengan motto hidupnya dalam  huruf Jawa Honocoroko yang selalu dipajang di gerainya. Motto tersebut berbunyi “Sing sopo gawe nganggo, sing sopo nandur ngunduh” artinya siapa yang berbuat baik maka akan mendapat kebaikan.

Terkait dengan penerus profesi sebagai tukang pahat apalagi usianya sudah sepuh, Subarjan mengakui dari ketujuh anaknya hanya ada satu anaknya yang bernama Andri Astono akan meneruskan sebagai pembuat dan penjual patung. Bahkan anak kelimanya tersebut saat membuat patung lebih cepat dan hasilnya lebih bagus.

“Tapi dia membuat patung dikala senggang saja karena dia kerja juga jadi supir,” paparnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar