Banyaknya kerabat yang menghadiri inilah yang dimanfaatkan Bambang Sutoyo (45), sales alat komunikasi wireless untuk menawarkan produknya.
Namun hingga pemakaman usai pada pukul 12.00, belum ada satu pun konsumen yang tertarik untuk membeli produknya. Menurut Bambang, ada banyak faktor yang menyebabkan orang yang dihampiri tidak tertarik untuk membeli produknya. Di antaranya adalah karena hari ini orang - orang yang dihampirinya sedang berduka cita.
Padahal untuk menarik konsumen, berbagai trik dan cara pun dilakukan Bambang. Bambang bahkan sempat mengikuti konsumen hingga masuk ke mobil agar membeli produknya. Tapi tetap saja upaya yang dilakukannya belum berhasil alias belum ada konsumen yang tertarik untuk membeli produknya.
Dalam menawarkan produk alat komunikasi wireless ini sebanyak 20 tim pun diturunkan untuk membantu Bambang. Mereka terdiri dari kaum perempuan dan laki - laki. Dengan cekatan para sales ini menghampiri setiap pelayat yang keluar dari komplek pemakaman.
Tidak adanya konsumen yang tertarik untuk membeli produk tersebut sangat berbeda ketika Bambang dan kawan - kawannya menjajakan dagangannya dalam perhelatan kongres Partai Demokrat yang berlangsung di Bandung kemarin. Dalam ajang pemilihan ketua umum partai tersebut, sebanyak 100 unit alat komunikasi wireless bisa dijual Bambang seorang diri. Itu belum termasuk dengan teman - teman Bambang yang lainnya.
"Kalau hari ini sama sekali belum ada yang laku," paparnya.
Sementara itu Debleng (25), penjual mainan malah mendapatkan keuntungan yang besar. Karena hingga pemakaman usai, Debleng bisa mendapatkan uang sebanyak Rp 70 ribu. Padahal pada hari biasa, uang sebanyak itu belum tentu didapatnya dalam tempo setengah hari.
Ada sekitar 15 mainan kletekan dan lele - lelean yang berhasil dijual Debleng ke setiap anak - anak yang ikut melayat bersama orang tuanya. Harga setiap mainan tradisional yang dijualnya sekitar Rp 5 ribu. Kebanyakan mainan yang diminati anak - anak adalah kletekan yakni kincir kertas.
"Lumayan hari ini. Saya sudah dapat uang sebanyak Rp 70 ribu," ujarnya senang.
Debleng yang mengaku berasal dari Subang dan tinggal di kawasan Condet, Jakarta Timur ini dari pukul 10.00 WIB sudah berada di TMP Kalibata. Dalam menjajakan dagangannya, Debleng cukup mendekati anak - anak
Sangat senang dengan pendapatannya hari ini, baru saja pemakaman usai dan pelayat banyak yang belum beranjak dari komplek pemakaman tersebut, Debleng langsung berangsur pergi meninggalkan TMP Kalibata. Mungkin dalam benak Debleng, hari ini sudah cukup uang yand didapat sehingga hari ini bisa digunakan untuk beristirahat lebih banyak di tempat kosnya di kawasan Condet, Jakarta Timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar