Rabu, 16 Februari 2011

Sensasi Ayam Bakar Jahanam

Foto : Safari SidakatonFoto : Safari SidakatonNAMANYA memang Jahanam, tapi bukan berarti jahat dan kejam. Disebut jahanam karena sensasi rasanya yang luar biasa sehingga kalau saja lidah kita menyentuh ayam bakar yang satu ini, rasanya dahsyat, luar biasa enaknya. Dan, kedahsyatan rasa inilah yang kita rasakan saat memakan ayam bakar olahan Winarto.

Foto : Safari SidakatonFoto : Safari SidakatonBanyaknya olahan daging ayam bakar  memang membuat juru masak harus pandai-pandai mencari istilah unik dan menarik untuk meraih pelanggan. Dan, inilah yang dirasakan oleh Winarto saat memberi nama ayam bakar olahannya.

Ayam Bakar Jahanam memang berbeda dengan ayam bakar pada umumnya. Daging ayam bakar ini sangat lembut dan empuk. Aroma rempah-rempahnya tidak hanya merasuk dan mengikat ke dalam daging tapi hingga ke sum-sum tulang. Tidak heran, ketika kita menikmatinya, tulangnyanya pun bisa kita gigit dan hisap.

Ayam Bakar Jahanam ini bisa dinikmati di Kedai Winarto yang terletak di Jl Kapten Tendean 18 B Jakarta Selatan atau tepatnya diseberang pom bensin “Shell” Tendean. Hampir setiap hari terutama pada jam istirahat kantor, kedai ini tidak pernah sepi dari pelanggan.

Foto : Safari SidakatonFoto : Safari SidakatonMenurut Winarto, pemilik kedai, ide penamaan Ayam Bakar Jahanan berawal dari penyajian ayam bakar yang masih panas kepada pelanggan. Panasnya ayam bakar makin bertambah saat disajikan dengan sambal merah yang pedasnya begitu ‘membakar’mulut.

Foto : Safari SidakatonFoto : Safari Sidakaton“Ketika menikmatinya maka akan terasa panas sekali,” ungkapnya.

Winarto menuturkan, kata jahanam yang melekat di ayam bakar juga membuat bahan ledekan para  pelanggan untuk juru masaknya.  Dan, kata ini lebih ditekankan kuat oleh pelanggan ketika memesannya. “Seperti saya pesan ayam bakar, jahanam!” ujarnya sambil tersenyum. Selain jadi bahan ledekan, kata Jahanam ini juga sering mengundang senyum pelanggan saat memesan.

Apa sih keistimewaan ayam bakar ini? Dijelaskan oleh Winarto, bahwa kesitimewaannya terletak dari cara pembuatannya dimana sebelum ayam dibakar, daging ayam diungkep dengan berbagai rempah-rempah. Usai diungkep dan ditiriskan, daging ayam yang masih panas langsung dimasukan ke dalam bumbu berulangkali sehingga bumbu meresap hingga ke dalam tulang ayam. Agar bumbu meresap dengan sempurna, daging ayam harus didinginkan selama 6 hingga 8 jam.

IMG_3119IMG_3119“Jadi bumbu-bumbunya bisa meresap ke dalam daging dua kali,” ungkapnya.

Saat membakarpun, daging ayam akan dilumuri bumbu tambahan campuran dari  bawang merah, daun jeruk, asem kandis, kecap dan merica. Bumbu tambahan ini merupakan perpaduan kaldu hasil ungkepan ayam yang telah dipanaskan sehingga menjadi mengental.
Banyak yang menyebut bumbu tambahan yang aroma rempahnya menyengat dan kental tersebut sebagai saus. Bahkan ada yang mengatakan sausnya mirip steak. Semua proses pembuatan dan bumbu campuran itulah yang membuat ayam bakar ini berbeda dengan ayam bakar lainnya.

Winarto mengakui, untuk membuat  hidangan semacam butuh waktu tiga tahun. “Sebelumnya saya uji coba diberbagai acara kampung seperti Agustusan dan rapat RT. Setelah dirasa cocok dan pas dengan bumbu-bumbunya barulah saya berani menjualnya,” paparnya.

Saat ini Ayam Bakar Jahanam baik dada/sayap atau paha dijual dengan harga Rp 12.000 per-porsi. Harga tersebut belum termasuk nasi. “Kalau dengan nasi nambah tiga ribu rupiah lagi,” jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar