Jajanan seperti Tempe, Ubi dan Bakwan goreng terlihat begitu menggugah selera untuk dinikmati. Selain nasi uduk, juga bisa ditemui lontong yang dibungkus daun pisang berukuran segenggaman tangan. Harga jananan tersebut juga tidak mahal, satu potong hanya dengan uang recehan Rp 500 sudah bisa dinikmati. Namun, semua makanan yang murah meriah tersebut tidak membuat Oman, kakek tiga cucu itu serta merta mengambilnya.
Oman urung sarapan pagi karena pendapatannya sebagai pengayuh becak semakin menipis belakangan ini. Apalagi Oman juga harus bersaing dengan banyaknya tukang ojek yang menawarkan jasa. Tentu hal ini yang membuatnya tak ‘bernafsu’ untuk segera membeli. Diakui Oman uangnya tak mencukupi hanya untuk menikmati jajanan murah meriah tersebut.
Sayang, keprihatinan dan rasa perih yang dirasakan Oman, justru berbanding terbalik dengan para pejabat yang memerintah negeri ini. Sudah mendapat fasilitas dan gaji yang terbilang besar, masih saja rasa kurang puas menyeruak. Bahkan, bikin ‘gregeten’ penduduk negeri. Sebut saja Presiden SBY yang menjelaskan gajinya tak juga naik setelah tujuh tahun berkuasa. Walah…!
Selain itu, segala keperluan presiden juga sudah dipenuhi Negara. Tercatat sekitar Rp 11-13 miliar dana istana digunakan untuk melayani presiden. Sementara, penghasilan sehari-hari Oman hanya berkisar antara Rp 20-40 ribu. Bahkan, kalau sepi pendapatannya bisa lebih kecil lagi. Oman terkadang tidak makan. Apalagi, ia juga harus menyisihkan pendapatannya untuk biaya kontrak rumah dan sewa becak sebesar Rp 3 ribu/hari.
Meski sudah mengontrak rumah petak didekat pangkalannya, Oman juga harus pulang ke Kampung Pondok Menteng, Desa Citapen Bogor. Terutama setiap akhir pekan untuk menemui istri dan anak-anaknya. Jika pulang kampung, Oman hanya membawa uang sebesar Rp 300 ribu.
“Cukup gak cukup harus dicukupkan, karena memang pendapatannya sebesar itu,” kata Oman.
Jika dibandingkan dengan gaji presiden, wow, tentu sangat jauh berbeda. Oman hanyalah rakyat kecil, tapi dirinya tidak pernah mengeluh apapun yang setiap hari didapatnya. Ia selalu menerima dengan lapang dada. Bahkan, Oman tidak penah ‘curhat’ dan membeberkannya kepada orang lain mengenai pendapatannya yang sebesar puluhan ribu rupiah perhari tersebut.
Oman, ayah delapan anak ini juga mengaku tidak pernah mengeluh soal pendapatannya yang sangat kecil, sehingga harus tidak sarapan. Katanya, ia menerima nasib apa adanya. Sehingga tidak mau beralih profesi, karena memang keahliannya adalah mengayuh pedal becak. “Ya diterima aja. Keahlian saya cuma di sini,” kata Oman dengan nada pelan.
Terkait pendapatannya yang sangat timpang, Oman mengaku sangat kecewa dengan permintaan Presiden SBY yang meminta kenaikan gaji. Sejak memimpin, Presiden SBY memang selalu membuat kecewa rakyat.
“Saat pertama kali jadi Presiden saja, terjadi bencana tsunami di Aceh,” ungkapnya.
Setelah terpilih kembali tahun 2009, sambung Oman, Indonesia juga selalu ditimpa bencana. Selain itu, katanya kebijakan yang dikeluarkan juga tidak menyentuh rakyat. Bahkan kebijakan yang dikeluarkan malah membuat rakyat sengsara. “Selama SBY mimpin tidak pernah membahagiakan rakyat. Yang ada membuat sengsara saja,” ujarnya.
Sementara itu, menurut Teguh Prihartono, Satpam SMP di Kalibata Jakarta Selatan- meminta agar Presiden SBY jangan naik gaji dahulu. Karena sekarang ini masih banyak rakyat yang kehidupannya sangat miskin. Orang fakir di Indonesia masih banyak, mereka masih membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan sehari-harinya.
“Kalau rakyatnya sudah sejahtera, boleh deh Presiden SBY minta naik gaji. Berapapun pasti dipenuhi kalau semua rakyat sudah sejahtera dan hidup layak. Tunjukkan kinerjanya yang bagus untuk kehidupan rakyat, bukan malah untuk kepentingan pribadi,” katanya menegaskan.
“Terus terang dengan permintaan naik gaji yang diajukan Presiden SBY, saya jadi enggak simpati lagi. Apalagi kinerjanya saat ini tidak membuat rakyat puas. Harga sembako saja tiap tahun pasti naik. Sementara pendapatan rakyat tidak naik-naik,” paparnya.
Uchok Sky Kadafi, Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengatakan, curhat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal gajinya yang tidak naik, dinilai sangat memalukan. Sebab, sebagai presiden, ia seharusnya lebih memikirkan pelayanan kepada masyarakat.
"Jadinya malah kayak karyawan, kayak pekerja, daripada seorang presiden," ujarnya miris.
Presiden adalah jabatan politik yang dipilih oleh rakyat dengan tujuan untuk melayani masyarakat. Bahkan, karena telah dipilih oleh rakyat, tanpa digaji pun presiden seharusnya tetap wajib bekerja.
"Kalau presiden memang mau mengejar gaji, ya, seharusnya dia dulu jadi Direktur Pertamina atau Gubernur BI saja!" kata Uchok sembari sewot.
Andri Rahmat, Ketua Depok Reptile-Amphibi Community (Deric)
”Kalau dilihat kondisi saat ini, dimana jumlah rakyat miskin yang semakin banyak. Korupsi dan KKN juga semakin merajalela, seperti kasus Century yang belum selesai, permintaan Presiden SBY naik gaji sangat tidak layak. Selesai dulu berbagai kasus yang menyangkut SBY, setelah itu baru minta naik gaji.
”Buat rakyat, minta gaji sebesar Rp 100 juta/bulan bukan masalah, yang penting kinerjanya benar-benar memuaskan rakyat. Terus terang, kinerja SBY saat ini tidak memuaskan. Kasus yang melibatkan SBY sangat kompleks. Banyak kepentingan yang bermain sehingga kasusnya tidak kelar-kelar.
”Kalau kinerjanya enggak bagus, Presiden SBY harus diganti. Apalagi, saat ini banyak masyarakat yang tidak mendukungnya karena trak record-nya semakin buruk.”
M Khoir Rizky, Komunitas Bicycle Motor X (BMX)
“Presiden SBY curhat minta naik gaji di depan umum sangat tidak pantas. Kalau dipenuhi bakalan banyak masalah karena rakyat yang bekerja juga bakal minta naik gaji. Sama seperti atasannya.
Jelas tindakan Presiden sangat memalukan buat Indonesia. Bisa rusak Indonesia di mata dunia internasional. Negara Indonesia bisa dianggap sebagai bangsa yang suka minta-minta.
“Kalau sudah begitu, baiknya Presiden SBY diganti saja, jangan tunggu sampai 2014. Kinerjanya saat ini sudah tidak benar karena membuat rakyat malu di depan negara lain. Selain itu, kinerjanya selama ini juga tidak membuat rakyat sejahtera tapi malah sengsara."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar