Rabu, 02 Februari 2011

Adu Kompetisi Di Komunitas Cupang Laga

Foto : Safari SidakatonFoto : Safari SidakatonTIDAK ada matinya jika anggota komunitas berkumpul atau mengadakan gathering. Ada saja yang dilakukan untuk menyemarakan suasana agar pertemuan berjalan semarak. Hal yang sama juga dilakukan oleh komunitas penggemar ikan cupang (Betta splendens) berjenis laga yang sering ikut kompetisi.

Komunitas Cupang Laga bernama Sekawan yang dibentuk 3 bulan lalu tersebut selalu mengadakan kegiatan setiap Sabtu-Minggu yakni dengan mengadakan kompetisi antar ikan cupang yang menjadi koleksinya di kediaman Erik, Ketua Sekawan di Kp Gedong Rt 01/10 Bojong Gede Bogor.

Foto: IstimewaFoto: IstimewaPada kompetisi yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga selesai tersebut dihadiri 15 orang anggota Sekawan yang berasal dari berbagai daerah  di Bogor, Cilebut, Bojong, Citayam dan Depok.

Lima belas anggota Sekawan yang selalu hadir adalah Erik, Jay, Edo, Jimi, Aco, Dony, Ndoy, Pay, Ambon (buron), Opan, Abel, Mance, Wawan, Indra, Olif dan Sugih. Para anggota tersebut berasal dari berbagai latar belakang dan profesi, seperti pegawai bank, PNS, pedagang dan pengangguran.

Layaknya menyaksikan laga maka banyak ekspresi yang keluar oleh pemilik cupang. Pemilik cupang ada diantaranya yang geregetan dan sewot ketika cupang andalannya mengalami pukulan. Ada juga yang menyaksikannya secara serius dan tidak berkedip serta tidak memperdulikan sekelilingnya.

Erik (Foto : Safari Sidakaton)Erik (Foto : Safari Sidakaton)Menurut Erik, kompetisi atau laga yang digelar setiap Sabtu-Minggu dilakukan untuk meningkatkan kualitas ikan cupang lokal yang dimiliki antar lubuk atau peternak. Jika sudah ditester sebanyak tiga kali dan ternyata selalu menang atau unggul maka bisa ditentukan bahwa cupang tersebut benar-benar berkualitas. “Cupang yang ikut laga juga harus benar-benar milik peternak,” kata Erik.

Cupang yang ikut laga juga secara postur harus sama dengan lawan. Jika lawannya memiliki badan yang agak kecil atau terlalu besar maka laga tidak bisa digelar. Dalam laga, postur tubuh cupang juga harus sama atau seimbang sebab cupang yang berpsotur kecil dipastikan akan mengalami kekalahan. Agar laga berjalan fair cupang yang akan berlaga, postur tubuhnya harus sama, baik panjang, lebar atau ketebalannya. “Kalau sudah sama maka laga bisa dimulai. Satu kali laga akan berlangsung 2-4 jam,” papar Erik.

Erik menuturkan, jika tiga kali mengikuti tester cupang selalu menang maka secara motis kualitasnya akan naik. Dengan naiknya kualitas maka harga cupang tersebut pun akan tinggi. Pada awalnya harga cupang lokal hanya berkisar Rp 10-15 ribu/ekor. Namun jika sudah ikut laga tiga kali dan berhasil menjadi juara maka harganya bisa mencapai Rp 25-100 ribu/ekor.

Foto : Safari SidakatonFoto : Safari SidakatonBahkan jika berhasil mengalahkan cupang import maka cupang lokal tersebut harganya bisa melebihi harga cupang import yang satu ekornya mencapai Rp 150-750 ribu. “Kalau selalu menang maka ada kebanggan untuk pemiliknya. Karena menunjukan cupangnya berkualitas,” ungkapnya.

Adapun ciri-ciri cupang yang berkualitas, sambung Erik, yakni bisa dilihat dari kelincahan, pukulan, keras sisik, mutu ring (mulut), warna fisik dan bentuknya. Jika sudah demikian maka cupang tersebut bisa menyandang nama seri atau alias dari mana cupang tersebut berasal.

“Nama seri bisa diambil dari tanggal, nomor lubuk atau dari sandi tersendiri,” paparnya.
Foto : Safari SidakatonFoto : Safari SidakatonAgar cupang bisa menang dalam setiap mengikuti laga, Erik memberikan beberapa tips baik dari perawatan hingga pakannya. Untuk penguat fisik, cupang diberikan calk, kulit telur, obat khusus dan ketadang. Penguat fisik cupang bisa juga dilakukan dengan di rolling di air calk atau dilarikan ke aquarium besar.
Untuk penajam gigi maka pakan cupang adalah  kutu air yang diberikan sampai berusia 5 bulan. 

Sedangkan untuk penguat mental, nafas dan pukulannya keras maka cupang harus dianakan, di ball dan dimeditasi gantur. Diball adalah istilah untuk memberikan air sedikit kepada cupang selama 6 jam sementara digantur adalah cupang ditempatkan pada plastik ukuran kecil yang tinggi.
”Kalau sudah begitu, cupang bisa melakukan pukulan beruntun,” tegasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar