Rabu, 02 Februari 2011

Jelajah Klenteng, Ie Tjok An Dapat MURI

Ie Tjok An di Klenteng/ Foto: SafariIe Tjok An di Klenteng/ Foto: SafariBILA Anda mengunjungi klenteng (tempat ibadah umat Konghucu) dimanapun lokasinya maka dipastikan akan menemukan bingkai yang memuat sejumlah foto - foto klenteng yang ada di Indonesia. Klenteng yang memajang foto - foto tersebut tidak hanya berada di pusat kota. Di pelosok pun dipastikan akan memajang bingkai yang memuat foto - foto klenteng tersebut
.
Penasaran, penulis pun mengunjungi salah satu klenteng yang ada di Jakarta. Ternyata benar, ketika mengunjungi Klenteng Hok Tek Tjeng Sin yang terletak di Jl Dr Satrio Kuningan Jakarta Selatan, tampak ada empat bingkai foto yang ditempatkan di aula klenteng tersebut. Masing - masing bingkai yang berukuran 100 cm x 70 cm ini memuat seratus foto rumah ibadah umat Konghucu yang ada di Indonesia.

Diatas foto - foto klenteng tersebut terdapat tulisan daftar tempat ibadah klenteng yang terdapat di Pulau Jawa, DKI dan Banten dengan huruf warna merah. Sementara dipojok kanan bawah terdapat nama Ie Tjok An berikut nomor teleponnya dalam tulisan warna hitam.

Foto  Klenteng di Indonesia masuk MURI/ Foto: SafariFoto Klenteng di Indonesia masuk MURI/ Foto: SafariPenulis pun menghubungi Ie Tjok An melalui telepon yang terdapat di foto tersebut dan sepakat bertemu di Klenteng Hok Tek Tjeng Sin. Tidak butuh waktu lama menunggu Ie Tjok An yang tinggal di Jl Pengukiran IV No 62 Tambora Jakarta Barat ditengah macetnya arus lalulintas Jakarta siang itu.

Menurut Ie Tjok An, rumah ibadah umat Konghucu yang rata - rata berusia telah ratusan tahun harus diketahui umatnya. Oleh karena itu, tujuan utama dirinya memotret setiap klenteng yang dikujunginya adalah sebagai panduan untuk umat Konghucu lainnya.

"Saat ini banyak umat Konghucu yang tidak mengetahui keberadaan rumah ibadah di tempat tinggalnya. Foto klenteng - klenteng ini bisa menjadi bahan informasi bagi umat Konghucu untuk datang," kata Ko Aan, panggilan akrab lelaki kelahiran Jakarta, 3 Desember 1960 ini.

Selain itu, sambung Ko Aan, tujuan pemotretan klenteng juga untuk memperkenalkan dan mengangkat kebudayaan Tionghoa terutama arsitektur rumah ibadah umat Konghucu yang sangat menarik. Arsitektur rumah ibadah umat Konghucu ini berbeda - beda setiap klentengnya.

Foto: SafariFoto: Safari"Tujuan lainnya saya memotret setiap klenteng juga untuk mempersatukan antar pengurus atau umat konghucu lainnya. Karena selama ini antar pengurus dan umat tidak saling mengenal," paparnya.

Ko Aan mengatakan selama ini banyak pengurus dan umat Konghucu yang induvidual. Mereka seakan - akan tertutup dengan keberadaan klenteng lainnya. "Mudah - mudahan dengan dimuatnya foto - foto klenteng ini antar pengurus dan umat saling mengenal," jelas ayah dari dua anak kembar ini.

Sementara saat ditanya dari mana biaya untuk melakukan perjalanan dari satu klenteng ke klenteng lainnya yang berada di lain propinsi, dengan jujur, Ko Aan mengungkapkan, selain dari koceknya sendiri biaya perjalanan juga didapat dari bantuan donatur.
"Dengan mengunjungi setiap klenteng yang ada di Indonesia, rejeki ada saja. Karena setiap saya mengunjungi klenteng yang ada di daerah banyak yang memberikan tempat penginapan dan mengantarnya ke klenteng - klenteng yang ada di daerah tersebut," paparnya.

Nama Ie Tjok An saat ini memang tercacat sebagai pengunjung rumah ibadah umat Konghucu terbanyak yang ada di bumi Nusantara ini. Itu dilakukan sejak tahun 2000 silam. Sedikitnya sudah tercatat 500 klenteng yang terdapat di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Lombok yang telah dikunjunginya. Sedangkan klenteng diluar negeri yang pernah dikunjunginya adalah yang berada di Singapura, Malaysia, Thailand dan China.

Karena ketekunannya mengunjungi rumah ibadah umat Konghucu ini, lelaki yang juga mengabdikan dirinya menjadi relawan di Yayasan Tzu Chi ini mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori pengunjung klenteng terbanyak pada tahun 2005.
Klenteng pertama yang dikunjunginya adalah Klenteng Kwan Im yang berada di Petak Sembilan Jakarta. Semantara klenteng terakhir yang dikunjunginya adalah Klenteng Dewi Samudra yang berada di Manado Sulawesi Utara.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar