Saat ini Condet tidak lagi dikenal sebagai kampung salak tapi telah berubah menjadi kampung minyak wangi. Kios-kios penjual minyak wangi ini akan terlihat sejak memasuki kawasan condet dari arah cililitan. Kios-kios penjual minyak wangi berjejer di sisi kanan dan kiri Jalan Raya condet yang dikenal sebagai salah satu pusat kemacetan di Jakarta Timur ini.
Foto: Safari SidakatonUmumnya pemilik toko minyak wangi tersebut adalah keturunan orang Arab yang telah pindah ke Condet sejak tahun 1970-an. Tidak heran, toko-tokonya juga menggunakan bahasa Arab, seperti Annur, Al Kaff, Fairus, Abu Mahdi, Al Barokah dan Mubarok. Di Condet ini mereka tidak hanya menjual minyak wangi, tapi menjual berbagai kelengkapan ibadah seperti baju gamis, sorban, peci/kopiah, tasbih, kitab bahasa Arab, madu Hadramaut. Bahkan ada diantaranya yang menjual nasi kebuli.
Menurut Abdurahman, manajer toko parfum Annur, keberadaan toko minyak wangi di Condet diawali pada tahun 90-an. Sebelumnya toko minyak wangi hanya terdiri dari beberapa toko saja. Saat itu, yang dijual juga bukan hanya minyak wangi, tapi juga minyak untuk pengobatan seperti minyak gandapura dan minyak kayu putih.
Namun seiring berjalannya waktu, apalagi di Jalan Raya Condet terdapat Masjid Al Hawi yang kerap mengadakan kegiatan pengajian. Jumlah penjual minyak wangi terus bertambah. Bagi umat muslim memakai wewangian ketika akan beribadah juga merupakan sunah seperti yang dicontohkan Rasulullah.
Foto: Safari Sidakaton
"Ini yang menjadi peluang bisnis makanya banyak yang jualan minyak untuk tambahan penghasilan," paparnya.
Saat ini, sambung Abdurahman, yang berbelanja minyak wangi juga bukan hanya umat muslim saja. Banyak diantaranya yang non muslim juga membelinya. Mereka juga berasal bukan dari kalangan menengah ke bawah saja tapi ada juga diantaranya dari kalangan menengah atas seperti pekerja kantoran.
"Kalau orang kantoran membeli minyak wangi di sini, harganya miring dibanding di mall," ungkapAbdurahman.
Mengenai kualitas, sambung Abdurahman, minyak wangi Condet tidak beda dengan minyak wangi merek terkenal yang dijual di mall. Yang membuat harganya miring dengan minyak wangi mall karena minyak wangi Condet tidak bermerek.
Foto: Safari Sidakaton
"Padahal secara kualitas sama dengan merk - merk terkenal. Karena bahan - bahannya juga import dari Eropa dan Timur Tengah," jelasnya.
Ternyata pusat penjualan minyak wangi Condet ini tidak hanya terkenal di Jakarta saja tapi sudah terkenal di seantero Nusantara. Ini dibuktikan dengan adanya orang dari daerah seperti Aceh dan Surabaya yang membeli minyak wangi di Condet. Biasanya mereka membeli dalam jumlah besar karena akan dijual kembali di daerahnya.
"Sebenarnya minyak wangi ini sudah menjadi kebutuhan bagi semua orang. Karena selain bisa meningkatkan percaya diri. dengan aroma yang wangi juga bisa menarik kostumer," ungkap Abdurahman.
Safari Sidakaton
Sementara itu menurut Budayawan Ridwan Saidi, Condet yang memiliki luas 632 hektar yang terbagi dalam tiga kelurahan Bale Kambang, Batu Ampar, dan Kampung Gedung ini memiliki sejarah panjang. Sejak 3.000 sampai 4.000 tahun lalu di kawasan yang berbatasan dengan Kramatjati ini sudah ada kehidupan. Ditemukan kapak batu, gerabah, dan lampu perunggu di Condet.
Dahulu condet pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Salaksana pada tahun 120M, nama-nama yang menjadi sejarah seperti seperti Bale Kambang dan Batu Ampar. Bale Kambang adalah tempat pesanggrahan raja-raja, sedangkan Batu Ampar merupakan batu besar tempat meletakkan sesaji (sesajen).
Diceritakan juga bahwa condet merupakan basisnya pendekar dan juga alim ulama, dan salah satu pendekar yang cukup tersohor namanya adalah H Entong Gendut.
Menurut Abdurahman, manajer toko parfum Annur, keberadaan toko minyak wangi di Condet diawali pada tahun 90-an. Sebelumnya toko minyak wangi hanya terdiri dari beberapa toko saja. Saat itu, yang dijual juga bukan hanya minyak wangi, tapi juga minyak untuk pengobatan seperti minyak gandapura dan minyak kayu putih.
Namun seiring berjalannya waktu, apalagi di Jalan Raya Condet terdapat Masjid Al Hawi yang kerap mengadakan kegiatan pengajian. Jumlah penjual minyak wangi terus bertambah. Bagi umat muslim memakai wewangian ketika akan beribadah juga merupakan sunah seperti yang dicontohkan Rasulullah.
"Ini yang menjadi peluang bisnis makanya banyak yang jualan minyak untuk tambahan penghasilan," paparnya.
Saat ini, sambung Abdurahman, yang berbelanja minyak wangi juga bukan hanya umat muslim saja. Banyak diantaranya yang non muslim juga membelinya. Mereka juga berasal bukan dari kalangan menengah ke bawah saja tapi ada juga diantaranya dari kalangan menengah atas seperti pekerja kantoran.
"Kalau orang kantoran membeli minyak wangi di sini, harganya miring dibanding di mall," ungkapAbdurahman.
Mengenai kualitas, sambung Abdurahman, minyak wangi Condet tidak beda dengan minyak wangi merek terkenal yang dijual di mall. Yang membuat harganya miring dengan minyak wangi mall karena minyak wangi Condet tidak bermerek.
"Padahal secara kualitas sama dengan merk - merk terkenal. Karena bahan - bahannya juga import dari Eropa dan Timur Tengah," jelasnya.
Ternyata pusat penjualan minyak wangi Condet ini tidak hanya terkenal di Jakarta saja tapi sudah terkenal di seantero Nusantara. Ini dibuktikan dengan adanya orang dari daerah seperti Aceh dan Surabaya yang membeli minyak wangi di Condet. Biasanya mereka membeli dalam jumlah besar karena akan dijual kembali di daerahnya.
"Sebenarnya minyak wangi ini sudah menjadi kebutuhan bagi semua orang. Karena selain bisa meningkatkan percaya diri. dengan aroma yang wangi juga bisa menarik kostumer," ungkap Abdurahman.
Sementara itu menurut Budayawan Ridwan Saidi, Condet yang memiliki luas 632 hektar yang terbagi dalam tiga kelurahan Bale Kambang, Batu Ampar, dan Kampung Gedung ini memiliki sejarah panjang. Sejak 3.000 sampai 4.000 tahun lalu di kawasan yang berbatasan dengan Kramatjati ini sudah ada kehidupan. Ditemukan kapak batu, gerabah, dan lampu perunggu di Condet.
Dahulu condet pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Salaksana pada tahun 120M, nama-nama yang menjadi sejarah seperti seperti Bale Kambang dan Batu Ampar. Bale Kambang adalah tempat pesanggrahan raja-raja, sedangkan Batu Ampar merupakan batu besar tempat meletakkan sesaji (sesajen).
Diceritakan juga bahwa condet merupakan basisnya pendekar dan juga alim ulama, dan salah satu pendekar yang cukup tersohor namanya adalah H Entong Gendut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar