Namun siapa sangka dengan memungut sejumlah uang logam tersebut justru yang didapatnya saat ini adalah kepekaan untuk berbagi kepada sesama bisa timbul. Bahkan dengan memungut uang logam yang selama ini ditekuninya, berbagai rejeki kerap mendatanginya tanpa disangka - sangka.
"Tujuan saya memungut setiap uang logam di jalanan adalah suatu bentuk untuk menghargai uang. Karena hanya gara - gara uang seperak bisa menimbulkan permusuhan," kata Ie Tjok An.
Lelaki yang setiap hari mengendarai motor Honda Pro B 4299 HM ini ketika memungut uang logam di perampatan lampu merah WTC Mangga Dua Jakarta Pusat. Akibat aksinya ini banyak pengendara motor dan mobil yang mengamatinya. Dalam benaknya mungkin mereka berkata, "Orang ini tidak ada kerjaan Apa. Duit recehan sudah rusak diambil." Akibat ulahnya ini juga arus lalulintas di perapatan tersebut agak tersendat.
Menurut Ko Aan, panggilan akrab ayah dua anak kembar ini, saat ini banyak orang - orang munafik dalam menilai uang. Bila uang tersebut dalam bentuk recehan yang nilai nominalnya rendah maka akan disia - siakan. Sementara bila uang yang ada di hadapannya dalam jumlah nominal yang besar maka akan diperebutkan.
"Ini namanya orang munafik, ada duit recehan di depannya enggan diambil. Tapi giliran enggak ada, maunya minta, " jelas lelaki yang suka traveling ini.
Tidak diambilnya uang - uang logam di jalanan, sambung Ko Aan, karena banyak yang menilai, uang recehan yang berada di jalanan merupakan uang sial. Sehingga untuk menghindari sial tersebut, ketika ada uang recehan logam di hadapannya maka tidak bakal diambilnya walaupun kondisinya masih dalam keadaan bagus.
"Tetap saya ambil kalau ada duit logam yang saya temui di jalan. Karena walaupun kondisinya jelek uang itu masih ada nilainya," tegas lelaki kelahiran Jakarta, 3 Desember 1960 ini.
Ko Aan mengakui, jika menemukan uang logam yang kondisinya masih bagus maka akan dimanfaatkan untuk keperluan menelpon dengan telepon koin. Sementara yang kondisinya sudah rusak karena terlalu banyak digilas roda kendaraan akan disimpannya di dalam kaleng biskuit.
Secara ekonomi, Ko Aan juga bukan termasuk orang yang kurang mampu. Karena rumahnya di Jl Pengukiran IV No 62 Tambora Jakarta Barat tergolong mewah. Rumahnya berlantai tiga dengan gaya modern. Ketika mengunjunginya, di rumahnya yang bercat kuning gading ini ada teve layar datar yang tempatkan di ruang tamu lantai bawah. Sementara di lantai tiga khusus digunakan sebagai ruang kumpul - kumpul antar teman dan altar untuk persembahan sang dewa.
"Sebenarnya kalau disatukan sama duit yang rusak beratnya ada 5 kg. Tapi duit yang rusak itu, sudah saya kubur waktu bangun rumah," paparnya.
Dikuburnya uang recehan rusak tersebut karena tidak ada yang mau menerima. "Karena udah enggak laku lagi makanya saya kubur waktu ngecor pondasi. Habis mau dibawa kemana lagi," kata Ko Aan dengan logat hokiannya.
Di yayasan yang konsen pada kemanusiaan ini, Ko Aan bertugas sebagai tim survey untuk menilai apakah orang tersebut layak dibantu atau tidak. "Dengan memungut duit - duit logam di jalanan, saya juga bisa peka apakah orang ini benar - benar susah atau tidak ketika mengajukan bantuan ke Yayasan Budha Tzu Chi," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar