Tapi, tahu nggak sih! Ternyata ada es krim yang dalam penyajian maupun rasanya tidak saja dingin, tapi juga panas. Kok bisa? Yups, namanya es krim goreng. Sesuai dengan namanya, maka es krim goreng ini memiliki rasa dingin dan panas yang berpadu menjadi satu.
Adalah JC Endro Purwanto sang pembuatnya. Sejak awal tahun 2009, lelaki asal Bandung ini merintis usaha es krim goreng. JC Endro mengaku hanya menjual es krim goreng tersebut pada saat ada event saja seperti bazaar, perhelatan musik atau objek wisata. Jadi sampai saat ini keberadaann es krim gorengnya belum bisa ditemui di Mal atau pusat perbelanjaan.
Menurutnya, es krim goreng lebih cocok dijual diberbagai acara seperti perhelatan musik atau acara lainnya yang sifatnya sementara. Karena, sasaran konsumen es krim goreng adalah para penikmat kuliner yang selalu penasaran dengan sesuatu yang baru. Dan es krim goreng ini masih terbilang sesuatu yang baru di Indonesia.
Sementara kalau di Mal atau pusat perbelanjaan, sambung Endro, sebagian besar adalah pengunjung tetap sehingga tidak akan penasaran dengan cita rasa es krim goreng tersebut. Ini dibuktikan ketika Endro menjual es krim goreng tersebut di mal atau pusat perbelanjaan sempat diterima dan banyak konsumennya. Namun, seiring berjalannya waktu penikmat es krim goreng lambat laun semakin berkurang.
“Awalnya bagus buka di Mal tapi lama-lama turun,” jelas lelaki yang tinggal di Jalan Sukamaju Barat Lembang Bandung ini.
Satu porsi es krim goring, jika komplet dengan ditaburi Keju, Cokelat dan Meses dijual dengan harga Rp 8 ribu. Sementara, jika tidak komplet dijual dengan harga Rp 6 ribu. Saat ini selain menjual es krim goreng yang menjadi makanan penutup popular di restoran Cina dan Jepang, Endro juga menjual kentang goreng dalam bentuk spiral. Makanan unik tersebut dinamakan “Spiral Potatos.”
Ia mengatakan, selalu menyisihkan 30 persen hasil dari keuntungannya untuk disumbangkan keberbagai bencana yang terjadi di Indonesia. Penyisihan hasil keuntungannya tersebut merupakan satu bentuk berterimah kasih kepada Sang Khalik.
”Saya ingin memperhatikan orang lain dengan cara begini. Karena kita sudah diberi Tuhan ilmu, maka saya harus berbagi dengan orang lain,” papar lelaki yang menjadi Ketua BASTEK (Bidang Aplikasi Sains dan Teknologi) Divisi Care Unit, yakni komunitas yang bergerak di bidang sosial meyakinkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar