Mencintai airsoft membuatnya berubah. Kini, Anggie justru banyak teman dan tak lagi memupuk sifat buruknya yang 'meledak-ledak.' Selain itu, senyum pun kerap mengembang di balik seragam dan unit senjata yang dipegangnya.
Tapi, semua hal buruk dan memalukan tersebut telah berubah 180 derajat. Kini ia lebih bersahabat kepada siapapun yang menyapanya. Sobatnya, juga terus bertambah. Bahkan, kini telah mencapai ribuan yang tersebar dari berbagai pelosok Jabodetabek.
Perubahan sifat yang lebih positif secara drastis dialami lelaki berkumis tipis tersebut setelah mengenal dan mencintai permainan airsoft. Yakni, sebuah olahraga atau permainan yang mensimulasikan kegiatan militer atau kepolisian yang menggunakan replika senjata api. Perubahan sifatnya itu, juga tak membutuhkan waktu lama. Hanya berkisar dua tahun semenjak ia menekuni permainan airsoft sejak 2006.
“Terus terang sebelum mengenal airsoft, teman saya terbatas. Saya ini orang yang cenderung bertemperamen tinggi,” kata Anggie C.A.T mengawali pembicaraan di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.
Anggie menuturkan, tertarik pada airsoft karena ingin mengembalikan jatidirinya sebagai manusia yang makhluk sosial dan berbagi dengan orang lain. Ia ingin sekali bergaul dan bersosialisasi dengan masyarakat umum. Oleh karena itu, ketika ada permainan airsoft yang melibatkan banyak orang, ia pun begitu tertarik untuk segera bergabung.
Karena sering bergaul dalam permainan airsoft, lambat laun pola pemikiran Anggie yang sebelumnya kaku dan pelit senyum pun berubah menjadi sering bercanda. Dari candaan itulah tercipta pola kedewasaan terhadap diri Anggie. Apalagi setiap akan memulai permainan ada siraman rohani dari sesepuh airsoft.
“Itulah yang membuat saya menemukan jati diri bisa menjadi luwes ketika bermain airsoft. Tahun 2008 saya sudah beradaptasi, yang tadinya sangat memalukan karena kalau tersinggung pasti ujungnya berantem. Kadang-kadang saya menyerap yang tadinya bercanda saya menilainya menghina,” ungkapnya.
Anggie mengakui, perubahan sifatnya tersebut juga dirasakan oleh Kristina, istrinya. Perlakuan kasar pada tambatan hatinya tersebut telah jauh berkurang. Kini ia bisa bermesra-ria hingga membuat iri pasangan lainnya.
“Sampai detik ini sudah tak terhitung lagi saya punya teman. Teman saya bahkan mencapai ribuan. Bahkan, banyak orang mengenal saya tapi saya tidak kenal,” paparnya sembari tersenyum.
Bersitegang dengan Istri
Anggie seperti tak pernah berhenti membeli berbagai macam peralatan airsoft yang harga minimalnya mencapai Rp 2,5 juta. Karenanya ia sempat bersitegang dengan Kristina, istrinya. Peristiwa itu berawal ketika istrinya menanyakan harga setiap peralatan yang dimiliki Anggie.
“Saya bilang murah kok, paling mahal hanya Rp 500 ribu,” ujarnya.
Kebohongannya terbongkar ketika menjemput sang istri di salah satu toko airsoft. Saat itu, istrinya kaget dengan harga unit M4 yang mencapai Rp 2 juta. Sampai di rumah aksi ‘perang’ mulut pun terjadi. Namun, Anggie mengatakan, semua peralatan dibeli tidak menggunakan gaji. Semua gaji yang didapatnya telah disetorkan secara utuh ke istrinya.
“Saya beli peralatan airsoft hanya menggunakan uang laki saja. Uang perempuan tidak saya gunakan,” ucapnya mengenang.
Aturan main
Anggie mengakui, karena tidak ada aturan yang jelas, membuat sesama anggota kerap jor-joran dalam daya lesat setiap peluru yang ditembakkan unit atau feet per second (fps). Karena tidak aturan tersebut, maka permainan airsoft berujung dengan perkelahian atau bermusuhan.
“Makanya, saya ingin membuat team yang benar-benar memiliki attitude cara bermain airsoft yang benar dan sehat,” paparnya.
Anggie berharap dengan adanya AD/ART maka berbagai pelanggaran yang terjadi di komunitas airsoft bisa dikurangi atau dihilangkan. Dalam AD/ART tersebut ada sekitar 23 pasal yang berisi aturan dan sanksi yang melanggar. Pasal-pasal dalam AD/ART tersebut mengatur peraturan dan sanksi. Sanksi terberat bagi yang melanggar adalah dikeluarkan dari tim.
Selain itu, data-data si pelanggar juga disebarkan sehingga tim lain tidak akan menerimanya. Sanksi keras tersebut agar ada efek jera, sehingga tidak membuat citra airsoft menjadi rusak.
“Mudah-mudahan dengan peraturan itu pelanggaran yang dilakukan penggemar airsoft bisa berkurang,” ujarnya.
Untuk mengangkat citra airsoft, Anggie bersama C.A.T juga kerap menggelar event atau istilahnya tour of duty yang digelar diberbagai daerah seperti Studio Alam TVRI, Pulau Edam Kepulauan Seribu dan Gunung Pancar Bogor.
Diantara event yang pernah dibuatnya adalah Operasi Stonehole 3 24 Hours, Operasi "Brigade 3234", Operasi "JUNGVER", Joint Operasi Dharmayudha IV, Gathering –City Elimination, Island Wargame "GHOST RECON OPERATION" 2nd dan lainnya.
“Untuk event, C.A.T memang telah dikenal yang sering buat event,” tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar