Selain hobi, C.A.T (Combat Airsoft Team) mencoba merubah image komunitas airsoft menjadi lebih tegas, yaitu berkarakter patriotisme. Sebagai club perumahan, sekumpulan pecinta permainan ala militer ini juga memiliki aturan yang jelas sehingga tak ada oknum yang 'nakal' di dalamnya.
Pada awalnya club airsoft gun ini dibentuk oleh 6 orang warga komplek Perumahan Griya Taman Tiga Putra, Cinere, Jakarta Selatan pada tahun 2006. Keenam warga perumahan yang hobi pada permainan airsoft itu adalah Gabriel Anggi, Imam Mulya Bahri, Agung Harjaya, Supriyatno, Sarjon dan Saptono.
Karenanya, pada awal pembentukannya nama club tersebut mengedepankan nama komplek perumahan yakni Cinere Airsoft Team atau disingkat C.A.T. Namun, dalam perjalanannya, banyak warga di luar Perumahan Griya Taman Tiga Putra Cinere yang tertarik dan bergabung di C.A.T.
Mereka tersebar di berbagai pelosok Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi dengan latar belakang dan profesi yang berbeda. Seperti karyawan, eksekutif muda, pengusaha dan pegawai negeri sipil (PNS).
Sejak itu pula C.A.T berubah nama dari Cinere Airsoft Team menjadi Combat Airsoft Team. Skirmish pun berpindah dari sebelumnya hanya di Pangkalan Udara Pondok Cabe ke Gunung Pancar Bogor, Studio Alam TVRI Cilodong, Buperta Cibubur dan Pulau Edam di Kepulauan Seribu. Gunung Pancar bahkan menjadi basecamp dan sudah direstui oleh pengelola kawasan tersebut.
Tidak itu saja, untuk mengarahkan dan memberikan bimbingan saat skirmish, C.A.T pun melibatkan anggota TNI. Aparat TNI yang kerap dilibatkan C.A.T adalah TNI AU dan Komando Garnisun Tetap I Jakarta (Gartap).
Combat
Terkait dengan kata 'combat' yang melekat di club C.A.T, menurut Anggie, kata 'combat' hanya nama saja. Jadi, arti 'combat' adalah perang, tapi dalam permainan saja. Karena saat perang menggunakan alat airsoft yang sudah tentu berbeda dengan senjata api sungguhan.
“Kata 'Combat' juga untuk mengganti kata Cinere,” ujarnya.
Mengingat airsoft hanya permainan saja, maka Anggie pun saat ini tengah membenahi agar organisasi airsoft di Indonesia tidak bisa dirusak oleh oknum-oknum tertentu. Apalagi saat ini banyak oknum airsoft yang bergaya over layaknya militer. Bahkan, menakut-nakuti masyarakat dengan peralatan airsoft.
“Kami sudah sosialisasikan kepada teman-teman untuk memberikan contoh yang baik. Dengan begini, maka setiap pengemar airsoft akan menjiwai permainan airsoft,” jelasnya.
Namun, sambung Anggie, niat baik tersebut terkendala dengan ulah seller atau penjual airsoft yang hanya mengeruk keuntungan saja tanpa menyeleksi pembelinya. Akibatnya, banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang airsoft dengan mudah mendapatkan peralatan airsoft sehingga bisa membuat rusak nama baik komunitas airsoft.
Biasanya masyarakat umum membeli peralatan airsoft juga untuk jaga diri dan gaya-gayaan. Padahal, peralatan airsoft digunakan untuk jaga diri adalah salah besar. Karena peralatan airsoft hanya mainan belaka.
Setiap calon anggota akan diseleksi dengan cara di training dan dibimbing sehingga bisa memenuhi persyaratan untuk bisa bergabung. Selain itu, setiap peluru yang ditembakkan juga harus memenuhi batasan FPS (feet per second). Di C.A.T setiap peluru yang ditembakan dibatasi yakni hanya 450 FPS, diatas itu tidak akan diperkenankan untuk mengikuti skirmish.
“Calon yang temperamen juga tidak akan direkrut,” ungkapnya memastikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar