Komunitas Airsoft Gun selalu menelan 'pil pahit' ketika ada tindakan kriminal menggunakan senjata oleh para oknum. Tak mau dianggap sebagai komunitas gagah-gagahan bak cowboy, Bram dari SPARTAN memberi jawaban...
BELAKANGAN INI kasus penyalahgunaan alat permainan airsoft semakin marak. Masih ingat dalam benak kita kasus pamer 'senjata' yang dilakukan H Muhammad Sabri (43), warga RT 16 Kelurahan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Ia sempat menembakkan pistol airsoft miliknya ke arah Andi Alfian (18), Warga Kilometer 2 Kelurahan Penajam PPU.
Akibat aksi pamer senjata replika itu, H Muhammad Sabri terjerat pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara.
Mengenai mudahnya pemilik replika airsoft yang bertindak ala ‘cowboy’ itu tak ayal menebar sinisme. Selain itu, membuat banyak warga yang ketakutan. Ironisnya, pengguna jenis permainan ini adalah komunitas yang memang benar-benar menyukai airsoft sebagai sarana olahraga, hobi sekaligus sebagai ajang sosialisasi. Sementara, di luar itu banyak oknum yang menyalahgunakannya. Tentu, para komunitas yang identik dengan gaya militer ini pun merasa tidak nyaman, begitu kata Bram.
Alasannya, orang yang tergabung dalam komunitas airsoft tidak akan mungkin bertindak demikian. Karena, siapapun orangnya ketika tergabung dalam komunitas ini, otomatis akan menjunjung tinggi harkat dan derajat nama komunitasnya. Begitu juga dengan komunitas airsoft, anggotanya akan menjunjung tinggi kredibilitas komunitasnya di mata masyarakat. Terlebih, alat permainan airsoft 100 persen mainan yang bentuknya saja menyerupai senjata yang digunakan militer.
“Awalnya hobi yang menggunakan replika senjata hanya orang-orang tertentu karena harga replikanya yang lumayan mahal. Dulunya harga replika diatas Rp 4 juta dan itu buatan Jepang,” ujar Bram kepada TNOL di Jakarta belum lama ini.
Harga replika senjata dari China dan Taiwan bisa diperoleh dengan harga Rp 2 juta.
Bram menambahkan, agar tidak terjadi penyalahgunaan replika tersebut, para anggota komunitas khususnya yang tergabung dalam Spartan pun menyebutnya bukan senjata. Anggota komunitas menyebutnya dengan kata Unit. Misalnya, jika mengunakan replika senjata yang menggunakan baterai maka disebut AEG, yang menggunakan gas disebut GBB dan yang menggunakan per atau pegas disebut Spring.
“Jadi kita tidak pernah mengatakan alat yang digunakan untuk bermain Airsoft adalah senjata. Tapi GBB dengan model M4 atau M16. Kenapa disebut seperti itu, karena kita menerapkan pemikiran itu bukan senjata. Kalau senjata bisa digunakan untuk membela diri. Ini sama sekali tidak bisa untuk bela diri.
“Paling, kalau kena hanya bentol-bentol saja. Kalau kita nakuti-nakuti orang, yang ada malah mainan kita diambil dan bisa dipukuli sama massa,” jelasnya.
Tidak Bisa Diubah Menjadi Senjata
Replika senjata airsoft berbahan material dari plastik sehingga sangat sulit untuk menjadikannya sebagai senjata api. Selain itu, moncong dari replika tersebut juga sangat kentara bentuknya, yakni tidak besar seperti senjata api sungguhan.
“Hanya bentuknya saja yang menyerupai, sementara bahan dan sistem pengoperasiannya berbeda dengan senjata sungguhan.”
Bram menuturkan, bentuknya banyak yang menyerupai senjata api yang digunakan militer dan polisi. Maka banyak orang di luar komunitas yang berbuat kriminal. Bahkan Bram berani menjamin bahwa yang melakukan tindakan kriminal dengan membawa unit airsoft adalah orang di luar komunitas.
“Seratus persen orang yang didalam komunitas ini tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Yang dimaksud dalam komunitas tidak hanya sekedar nama. Tapi juga aktif dan kalau sudah aktif yang namanya hobi maka akan care. Dia tidak akan mau merusak hobi tersebut,” ujarnya memberi alasan.
Ia sangat meyakini bahwa yang melakukan tindakan kriminal bukan anggota komunitas airsoft. Hal itu, karena sesama sanggota komunitas airsoft akan saling terkoneksi. Jauhnya tempat tinggal tidak menjadi alasan bagi mereka untuk tidak saling terkoneksi. Apalagi, jika ada berita yang menyangkut airsoft, maka sesama anggota akan saling menginformasikan bahwa pelakunya tidak tergabung dalam komunitas.
“Kalau ada berita apapun kita langsung tanya dan mengonfirmasinya, apakah itu anggota komunitas atau bukan. Seperti kejadian kemarin, ada tersangka AW dari Jakarta Utara yang tertangkap polisi karena pamer unit. Dia itu sebenarnya anak sekolahan yang terserempet mobil dan langsung mengeluarkan GBB laras pendek,” ungkapnya memberi bukti.
Setelah polisi menangkapnya dan sesama anggota menanyakan siapa pelaku dan dari klub mana, maka ketika di search tidak akan muncul namanya. Bahkan, ketika disebar fotonya pun, tersangka tidak dikenal sebagai anggota komunitas dan ketika ditanyakan ke toko penjual unit airsoft pun tersangka tidak dikenal.
“Itu artinya pelakunya adalah orang-orang di luar airsoft. Kita menyebutnya offline. Jadi orang yang tidak ikutan di komunitas airsoft, cuma beli unit dan menyalahgunakan,” paparnya.
Padahal, sambung Bram, jika menggunakan unit airsoft untuk melakukan tindakan kriminal bisa membuatnya sangat malu hati. Kenapa? karena unit tersebut sebenarnya adalah mainan.
Saat ditanya karena mudahnya orang di luar komunitas bisa memiliki atau membeli unit Airsoftgun menjadi pemicu, dengan tegas Bram mengatakan, bisa banget. Karena, toko yang menjual tidak fokus menjualnya hanya untuk komunitas. “Ada yang menjual unit kepada bukan komunitas airsoft, maka anggota komunitas ingin meluruskan,” ucapnya.
Karenanya, untuk meluruskan pemberitaan yang tidak benar tersebut, saat ini anggota komunitas meminta dan telah bekerja sama dengan toko airsoft agar selektif menjual unit. Sehingga, tidak ada lagi kejadian yang mengatasnamakan komunitas airsoft.
“Jika menjual unit diluar airsoft, maka yang rugi jelas toko tersebut karena bakal kena razia aparat keamanan.
“Selama ini sudah banyak seller (pedagang) yang care. Tapi banyak juga seller yang jualan di FB menjual sesuatu yang tidak diperkenankan di airsoft. Seperti pelurunya yang dari metal, keramik dan kaca. Itu sangat berbahaya,” tegas Bram.
Seharusnya, peluru yang digunakan anggota airsoft adalah dari jenis plastik yang daya rusaknya sangat rendah. Oleh karena itu, dirinya dan anggota komunitas airsoft meminta agar polisi jangan sampai menentang permainan airsoft.
“Kita mau airsoft diterima masyarakat, karena ini kegiatan positif. Kejadian kemarin adalah orang di luar airsoft,” tandas pria yang kerap bertindak sebagai trainer ini meyakinkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar