Senin, 03 Januari 2011

Sambal pun Harus Beli

Thamrin Mahesarani/Safari Sidakaton   
Minggu, 02 Januari 2011 17:10
IstimewaIstimewaKenaikan harga cabai di akhir tahun 2010, baik merah atau rawit, hingga mencapai 125% dari Rp. 19.564/kg menjadi Rp. 44.312/kg, membuat sejumlah pedagang makanan melakukan berbagai trik agar keuntungan yang diperoleh tidak menyusut. Di antara trik yang dilakukan adalah membatasi sambal atau cabai, yang diberikan secara cuma-cuma kepada setiap konsumen. Atau jika tetap memberikan sambal atau cabai dalam jumlah yang lebih, maka akan menerapkan biaya tambahan kepada konsumen.
Biaya tambahan ini dilakukan oleh Agus (32), pedagang soto mie Bogor, yang setiap hari mangkal di Gang Syawal, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Agus mengaku menerapkan biaya tambahan, karena mengantisipasi kenaikan harga cabe yang terus membubung. Apalagi pendapatan yang diperolehnya tidak mengalami kenaikan, alias masih biasa saja.
Soto mie ya enaknya pedas. (Foto: Safari Sidakaton)Soto mie ya enaknya pedas. (Foto: Safari Sidakaton)“Kalau minta sambalnya di atas 2 sendok, ya saya kenakan biaya tambahan. Saya minta tambahan biaya seribu rupiah,” kata Agus yang ditemui TNOL, Jumat (31/12).
Harga satu porsi soto mie Bogor + nasi yang dijual Agus adalah Rp. 8 ribu. Jika minta sambal hingga mencapai 3-4 sendok, maka uang yang dikeluarkan untuk menikmati sotonya, adalah Rp. 9 ribu. Itu belum termasuk dengan harga minuman, soft drink, yang dijajakannya.
IstimewaIstimewaAdanya biaya tambahan sambal yang dilakukan Agus, ternyata dikeluhkan oleh salah satu pelangganya. Yanto, yang biasa menyantap soto mie Bogor ini, mengaku berat juga ketika seleranya menikmati makanan khas Bogor tersebut, harus diganggu dengan biaya tambahan. “Kayaknya enggak enak ya kalau minta sambal saja minta biaya tambahan,” keluhnya.
Trik untuk mengantisipasi kenaikan harga cabai juga dilakukan oleh Edi (33), pedagang gorengan yang biasa mangkal di depan Komplek Pertokoan DBest, Fatmawati, Jakarta Selatan. Bila sebelumnya Edi memberikan cabai berapa pun kepada setiap pembeli, maka sejak harga cabai terus meningkat, Edi hanya memberikan cabai kepada konsumen yang membeli gorengan di atas harga Rp. 5 ribu.
Sambalnya sesendok saja. (Foto: Safari Sidakaton)Sambalnya sesendok saja. (Foto: Safari Sidakaton)Jika ada konsumen yang membeli gorengannya dengan nominal Rp. 10 ribu, maka cabai yang diberikan juga dibatasi, yakni berkisar 10–12 butir saja. Sedangkan bila konsumen hanya membeli gorengan dengan harga Rp. 2 ribu maka Edi tidak akan memberikan cabai. Alasannya, bisa bangkrut dagangannya jika harus memberikan cabai kepada setiap pembeli.
“Sekarang cabai rawit sudah Rp. 60 ribu sekilo. Yang ada, keuntungan yang saya peroleh hanya untuk beli cabai,” jelasnya.
Namun Edi mengaku tidak tega juga, ketika ada konsumen dengan uang yang pas-pasan, menikmati gorengannya namun tidak mendapatkan cabai. Bila sudah demikian, maka dengan terpaksa, Edi memberikan cabai hanya beberapa butir saja.
Makan gorengan tanpa cabai, serasa jomblo di malam Minggu. (Foto: Safari Sidakaton)Makan gorengan tanpa cabai, serasa jomblo di malam Minggu. (Foto: Safari Sidakaton)“Ya saya berikan seadanya saja, dari pada kasihan rasa pedasnya gak ada,” jelasnya.
Namun jika beberapa pedagang menerapkan biaya tambahan atau mengurangi cabai atau sambal yang diberikan. Hal berbeda justru dilakukan Lili (26), pedagang mie ayam yang biasa mangkal di halaman Masjid Agung At-Tin, Jakarta Timur. Lili mengaku memberikan sambal beberapa pun yang diminta konsumen tanpa memungut biaya tambahan.
“Kasihan orang mau menikmati rasa pedas kok dikurangi. Yang penting mienya dimakan. Kalau sudah minta sambal tambahan tapi mienya tidak dimakan, itu yang membuat saya marah,” jelasnya.
Tanpa sambal, rasanya kurang rame. (Foto: Safari Sidakaton)Tanpa sambal, rasanya kurang rame. (Foto: Safari Sidakaton)Namun Lili mengaku untuk mengantisipasi kenaikan harga cabai, maka menerapkan dengan memberikan porsi air yang berlebihan setiap membuat sambal. Artinya, jika sebelumnya satu mangkuk sambal dengan komposisi 1 ons cabai dan 1gelas air, maka belakangan ini hanya membuat 0,5 ons cabe dengan ukuran air yang sama. Memang rasa pedas yang didapatnya jadi agak berkurang karena komposisinya lebih banyak air.
Hal inilah yang membuat Lili membiarkan, dan tidak menerapkan biaya tambahan, ketika ada konsumen yang meminta agar sambalnya dilebihkan. “Ya mau gimana lagi, cabai sekarang sudah selangit,” paparnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar