Rabu, 26 Januari 2011

Sahabat Anak, Komunitas Penyayang Anak Jalanan

Kemeriahan Jambore sahabat anak, Sahabat Anak selalu peduli anak jalanan/ DokKemeriahan Jambore sahabat anak, Sahabat Anak selalu peduli anak jalanan/ DokSELAMA ini banyak pihak yang tidak memperdulikan nasib anak-anak jalanan yang tersebar di pinggiran ibukota. Tapi, tidak demikian dengan komunitas yang satu ini. Mereka, justru memperjuangkan anak-anak jalanan agar mendapatkan hak-haknya sebagai makhluk mulia yang diciptakaan Tuhan.

Komunitas yang konsens terhadap anak-anak jalanan itu adalah Sahabat Anak (SA). Komunitas ini dibentuk tahun 1997 oleh kaum profesional dan mahasiswa yang bergerak di bidang kesejahteraan anak kaum marjinal. Gerakan Sahabat Anak (GSA) merupakan ajakan bagi masyarakat untuk turut berperan aktif memperjuangkan terwujudnya hak-hak anak Indonesia. Dan Sahabat Anak mendukung gerakan “Stop beri uang, jadilah Sahabat Anak.”

Sahabat anakSahabat anakSekretariat komunitas ini terletak di Gang sempit yakni di Jl Tambak II RT 06/05 No 23 Komplek Polri, Pegangsaan Jakarta Pusat 10320. Namun berbagai program guna mewujudkan hak-hak anak Indonesia telah berhasil dilakukan. Saat  ini sudah ada 600 anak jalanan yang mendapatkan kegiatan rutin, yakni bimbingan belajar dari tujuh area SA yakni  Prumpung, Grogol, Cijantung, Gambir, Manggarai,  Tanah Abang dan Mangga Dua.

“Visi kami menyadarkan anak jalanan, bahwa mereka berharga sebagai manusia ciptaan Tuhan yang berharga dan mulia,” kata Natasha Mayestha, Humas Sahabat.

Menurut Natasha, ada 10 hak anak yang konsesn diperjuangkan Sahabat Anak. Sepuluh hak anak tersebut adalah hak untuk  bermain, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk mendapatkan nama (identitas), hak untuk status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan, hak untuk mendapatkan akses kesehatan, hak untuk mendapatkan rekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan dan hak untuk memiliki peran dalam pembangunan.

Natasha, Humas Sahabat Anak/ Foto: Safari TNOLNatasha, Humas Sahabat Anak/ Foto: Safari TNOLUntuk mewujudkan hak-hak anak tersebut maka berbagai kegiatan rutin pun telah dilakukan SA. Diantara kegiatan tersebut adalah Jambore Anak Jalanan, yakni kegiatan tahunan yang diselenggarakan dalam rangka Hari Anak Nasional 23 Juli dengan mengundang ratusan anak jalanan se-Jabotabek.
Untuk mengikuti berbagai acara, seperti pemeriksaan kesehatan, penyuluhan (AIDS, narkoba, hidup sehat, makanan bergizi), outbound, panggung gembira, games, dinamika kelompok, dan aktifitas edukatif-kreatif lainnya.

“Keunikan event ini adalah adanya pendamping (sukarelawan) yang menemani sang anak bermain, belajar dan berbagi kasih selama jambore berlangsung,” jelasnya.

Kegiatan lainnya yang kerap digelar SA adalah Pameran Pendidikan, yakni kegiatan yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional sebagai ajang unjuk prestasi bagi anak-anak binaan. Selain itu, SA juga menggelar Olimpiade Sahabat Anak. Melalui ajang olimpiade tersebut maka nilai-nilai positif, seperti sportifitas, kesehatan tubuh, saling menghargai, dan berkompetisi secara positif dalam berbagai perlombaan yang digelar – diharapkan dapat ditanamkan kepada adik-adik binaan SA.

Tidak kalah menariknya, setiap tahun SA juga menggelar Buka Puasa Bersama, Natal Gelandangan dan Ultah Massal. “Perayaan ulang tahun bagi anak-anak binaan dilakukan secara massal dalam periode tertentu
biasanya 3 bulanan,” paparnya.

Program Nutrisi
Program Nutrisi SAProgram Nutrisi SASetiap tahunnya SA juga menggelar program yang tujuannya agar anak-anak jalanan mendapatkan haknya. Tahun ini, SA menggelar program Nutrisi, yakni suatu program makanan bergizi yang tidak harus mahal. Pogram nutrisi dilakukan karena setidaknya ada 18 juta anak Indonesia yang kekurangan gizi.

Kampanye nutrisi sebagai hak anak  menjadi pesan utama yang diusung Sahabat Anak tahun 2010 ini. Sebagai Sahabat, Anda pun dapat berpartisipasi hanya dengan menyisihkan Rp 50.000 sebagai perhitungan biaya asupan nutrisi rutin bagi anak-anak marginal binaan Sahabat Anak. Dan distribusi momental bagi lembaga sejenis lainnya, dengan target 3.000 anak sejabodetabek selama 3 bulan berupa susu, kacang hijau, telur rebus, biscuit, agar-agar dan buah.

Sementara untuk menutupi kebutuhannya, SA juga membuat dan menjual berbagai merchandise sepeti kalendar dinding, kalender meja, mug, pin, tas dan kaos dengan logo pita biru sebagai simbol Sahabat Anak.
Beragam merchandise yang dijual Sahabat Anak untuk biaya sehari-hari/ Foto: Safari TNOLBeragam merchandise yang dijual Sahabat Anak untuk biaya sehari-hari/ Foto: Safari TNOLKomunitas Sahabat Anak berawal dari Jambore Anak Jalanan (JAJ) yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 1997, sejumlah voluntir yang terdiri dari mahasiswa, alumni, dan profesional – yang tergabung dalam kepanitiaan - melihat adanya satu kebutuhan esensial pada generasi anak kaum urban. Khususnya anak-anak jalanan di Jakarta - yakni pendidikan sebagai pendongkrak status, ekonomi dan karakter menuju fase yang lebih baik.

Bermodalkan komitmen ‘Purba’ (tanpa dukungan finansial, legalitas dan fasilitas mapan lainnya; namun murni semangat idealisme) Sahabat Anak ini lahir setelah melalui periode panjang dengan pembelajaran istimewa akan kerjasama. Dinamika filantropi, tantangan realita jalanan, pemahaman karakter anak jalanan yang unik, pengumpulan dana plus pertanggungjawabannya. Serta pencarian program kurikulum informal terbaik sesuai kebutuhan anak marginal tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar