Jembatan 'Cinta' Pasar Rebo, Mangkalnya Anak Motor Memadu Kasih
Dari pukul 16.00-24.00 WIB mereka terlihat menghabiskan waktu hanya untuk berdua-duaan merajut janji setia sehidup semati. Bahkan pada malam Minggu, jembatan ini akan semakin ramai dipenuhi pasangan muda - mudi yang berpacaran. Ketika berdua - duaan, rasa malu pun lambat laun lenyap. Mulanya berdempetan, berpegang tangan hingga akhirnya saling meraba dan ber-kissing ria di atas sepeda motornya. Halah...
Menurut Wardi, penjual buah dingin, banyaknya pasangan yang memadu kasih di jembatan layang Pasar Rebo, karena selain suasananya nyaman juga bisa melihat pemandangan yang lumayan bagus. Dari atas jembatan ini, para muda - mudi bisa melihat arus lalulintas di sekitar Pasar Rebo dan hiruk pikuk kehidupan masyarakat yang hendak berangkat dan pulang dari aktivitasnya.
"Pemandangannya enak kalau lihat dari atas jembatan. Kita bisa lihat apa saja dari atas jembatan," kata Wardi diantara dereten pasangan muda yang terlihat asoy.
Bila Anda mengunjungi jembatan Pasar Rebo di senja hari maka dari jembatan layang ini kita bisa melihat indahnya matahari beranjak tidur ke peraduan (little sunset). walaupun tidak seindah dan sedramatis seperti bila melihat matahari tenggelam utuh (full sunset) dari bibir pantai.
Dari atas jembatan ini kita juga bisa melihat hiruk-pikuk kendaraan-kendaraan yang melintas. Berpacu. Kadang cepat, kadang sedang-sedang dan kadang lambat. Memandang persis ke bawah jembatan layang ini, kita bisa lihat deretan penjaja buah, pakaian dan berbagai kelengkapan rumah tangga. Selain itu dari atas jembatan kita juga menyaksikan kerumunan orang menunggu kendaraan umum, perempuan-perempuan seksi yang tergesa-gesa menyeberang, hingga bus dan mikrolet yang saling sodok-menyodok berebut penumpang.
Sedangkan bila memandang ke arah timur jembatan layang ini, terlihat bus-bus dari Terminal Kampung Rambutan tujuan Bandung, Tasikmalaya, Cikampek dan sebagainya memutar di dekat jalan layang. Sedangkan dari arah Barat (Ciputat, Lebakbulus, Pondok Indah), Utara (dari arah Kramatjati) dan Selatan (dari arah Bogor, Depok) berbagai bus dan mikrolet saling memacu menuju Terminal Kampung Rambutan sebagai tujuan akhirnya.
Bagi muda-mudi yang tengah di mabuk cinta, pemandangan tersebut sangat mengasyikan untuk bercinta. Apalagi berasyik-masyuk berdua di jembatan layang Pasar Rebo ini bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Jembatan layang ini cukup jarang dilalui kendaraan ketimbang jalur dibawahnya yang penuh sesak dan hiruk-pikuk manusia .
Nyamannya Jembatan Pasar Rebo diakui Ratna (nama samaran) yang berdua - duanya dengan Edi, pasangannya. Ratna mengaku, berpacaran di atas Jembatan Pasar Rebo selain nyaman juga murah di ongkos.
"Paling saya hanya mengeluarkan ongkos untuk beli buah - buahan dan minuman," kata Ratna sambil tersenyum.
Di jembatan ini selain digunakan muda - mudi untuk berpacaran, ada juga anggota keluarga yang menggunakan jembatan ini untuk rekreasi. Ketika TNOL bertandang, ada satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anaknya yang menyaksikan pemandangan arus lintas dan kehidupan lainnya dari atas.
Tempat 'Pesta'
Menyaksikan kumpulan anak muda ini, ternyata mereka 'pesta' alkohol alias miras. Tidak terlihat jelas jenis minuman apa yang mereka nimum karena dilapisi plastik berwarna gelap.
Banyaknya pengunjung yang memadati jembatan ini memang membuat untung sejumlah pedagang asongan yang terdiri dari pedagang es, minuman, buah dingin dan rokok. Padahal sebelumnya saat jembatan ini baru diresmikan hanya ada 2 - 3 pedagang yang mengais rejeki.
Wardi mengakui berjualan di jembatan ini memang lumayan jika dibandingkan dengan lokasi di bawah jembatan. "Di sini ramai dan banyak anak muda yang nongkrong," jelasnya.
Pedagang yang mengais rejeki di jembatan, sambung Wardi, juga dikutip oleh oknum aparat sebagai uang keamanan. Setiap pedagang/hari dikutip uang sebesar Rp3000. Uang tersebut cukup kecil jika dibandingkan pendapatan dari berjualan di jembatan tersebut. Dari berjualan di jembatan, setiap harinya Wardi bisa menghabiskan ratusan potong buah dingin yang terdiri dari semangka, nanas dan melon. Uang yang didapat langsung disetorkan ke bosnya yang telah memberikan tempat tidur dan makan.
"Semua uang yang didapat saya setorkan ke bos, paling saya dapat Rp 20 - 30 ribu," ujar Wardi asal Madura ini.
Mengenai kondisi di atas, Herman, warga Cijantung, mengkritik aparat setempat, baik pihak kelurahan maupun kepolisian yang seakan tutup mata terhadap kondisi tersebut. "Udah bertahun-tahun seperti itu tapi enggak ditertibkan. Kayak pasar malam. Padahal, persis dibawah fly over ada pos polisi," ungkapnya.
Ia yang sudah tinggal selama 20 tahun di Cijantung menceritakan, bukan hanya motor yang diparkir seenaknya, melainkan terkadang mobil berhenti di atas fly over untuk sekadar membeli buah atau minuman. "Bahaya banget. Kendaraan yang lewat situ kenceng-kenceng," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar