Di sekolah ini, justru segala atribut yang mencirikan seorang siswa yang sedang menimba ilmu tidak terlihat. Siswa di sekolah ini bebas mengenakan pakaian apapun, baik hanya kaos lusuh, bercelana jeans atau apapun. Selain itu, penampilan setiap siswa di sekolah ini juga tidak dinomorsatukan. Karenanya, jangan heran jika ada siswa berambut gondrong atau yang bertato menempuh pendidikan di PKBM Bina Insan Mandiri.
Menurut Nurrohim, para siswa yang belajar di PKBM Bina Insan Mandiri memang tidak diwajibkan mengenakan seragam seperti merah-putih untuk SD, putih-biru untuk SMP dan putih-abu-abu untuk SMA. Karena dengan pakaian seragam maka bisa memberatkan beban siswa atau orang tua siswa.
“Di sini tampilan tidak penting, tapi roh belajar tetap ada. Kita buat siswa untuk kreatif dengan tidak menghilangkan inti belajar. Kelas pun tidak harus dengan gedung mewah tapi kita ciptakan sekeliling menjadi media belajar,” paparnya.
Tidak diterapkannya berbagai aturan untuk para siswa, sambung Nurrohim, karena sebagian besar siswa yang belajar di PKBM Bina Insan Mandiri adalah anak-anak jalanan. Yang secara ekonomi saja tidak mampu untuk membeli berbagai macam keperluan sekolah, seperti seragam atau buku. Oleh karena itu, para siswa yang belajar di PKBM Bina Insan Mandiri tidak dipungut bayaran alias gratis.
Saat ini siswa yang tercatat ada sebanyak 2000 orang yang menempuh pendidikan dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA. Latar belakang mereka bermacam-macam seperti pengamen, pengasong atau anak terlantar. Para siswa tersebut ada diantaranya yang badannya dipenuhi dengan tato dan berpenampilan lusuh.
Anak Terminal
Karena banyaknya anak-anak jalanan yang belajar di sekolah tersebut, maka tempat pendidikan ini begitu familiar di sekitar Terminal Depok. Jika menanyakan Master, maka hampir semua anak jalanan yang berada di terminal tersebut akan memberi tahu letak dan posisi sekolah tersebut secara tepat. Apalagi, sebagian besar anak jalanan di terminal Depok tinggal dan menempuh ilmu di sekolah tersebut.
“Untuk anak-anak jalanan, metode belajarnya beda seperti memberikan bimbingan belajar atau kursus yang membahas soal-soal yang berkaitan dengan ujian. Apalagi mereka sekolah hanya untuk mendapatkan ijazah saja,” jelasnya.
Meski para pelajar belajar di Sekolah Master sangat santai, namun soal kelulusan jangan diragukan. Hampir 70% siswa yang belajar di Sekolah Master bisa menempuh Ujian Akhir Nasional (UAN) baik untuk tingkat SD, SMP dan SMA dengan nilai yang memuaskan.
Tidak heran, Sekolah Master mendapat berbagai macam penghargaan dari tingkat daerah hingga nasional. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya beragam piagam dan piala yang menghiasi ruang tamu di Sekolah itu.
Saat ini tiga siswa SMA lulusan dari Master juga berhasil menembus menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Siswa yang berhasil masuk UI adalah Ais Rohim, Atikah (Jurusan Sastra Jawa) dan Ayat Khomeini (Jurusan Antropologi).
“Walaupun Sekolah Master bentuknya begini (sederhana) tapi soal pendidikan sudah standar nasional,” kata Dawa, salah satu guru di Sekolah Master dengan bangga.
Banyaknya prestasi yang telah diperoleh Sekolah Master, membuat sekolah ini kerap menjadi bahan penelitian dari berbagai lembaga. Hampir semua sekolah atau perguruan tinggi favorit di Negara ini pernah mengadakan penelitian di sekolah tersebut. Tidak itu saja, mahasiswa S2 juga kerap mengadakan penelitian di Sekolah Master.
Selain itu, 60 guru yang mengajar di Sekolah Master yang sebagian besar alumni sekolah tersebut ada juga yang lulusan S2 dari UI. Para guru tersebut tertarik mengajar di Sekolah Master karena metode belajarnya yang sangat berbeda dengan sekolah pada umumnya.
Untuk saat ini, sangat banyak kekurangan fasilitas yang dperlukan Sekolah Master. Kekurangan tersebut diantaranya alat peraga belajar seperti komputer dan mesin percetakan. Selain belajar secara akademis, siswa yang menempuh pendidikan di Sekolah Master juga diajarkan berbagai macam ketrampilan seperti menyablon, mencetak kartu undangan, melukis, musik dan membuat diaroma ruangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar