Jumat, 08 April 2011

Mursidi, Loper Koran yang 'Terjebak' di Dunia Menulis

Nur Mursidi/ Foto: Safari TNOLNur Mursidi/ Foto: Safari TNOLNama Nur Mursidi (36) mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda yang gemar membaca resensi buku di berbagai media nasional. Hampir sebelas tahun lelaki kelahiran Rembang, 30 Maret 1975 ini kerap menulis resensi buku dalam berbagai tema yang dimuat di media nasional. Seperti di Kompas, The Jakarta Post, Majalah Tempo, Koran Tempo, Majalah Gatra, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia dan masih banyak yang lain.

Padahal, sebelumnya lelaki yang akrab disapa Mursid ini adalah seorang penjual koran alias loper koran disekitar Terminal Umbulharjo Yogyakarta. Mursid mulai terpacu untuk membaca ketika mendapati tukang becak yang membeli korannya membaca berita di koran dengan tekun. Ditambah saat membaca ada mahasiswa yang tulisannya berhasil dimuat di Kedaulatan Rakyat dan Harian Bernas.

"Setiap membaca tulisan-tulisan penulis yang masih berstatus mahasiswa, otak saya serasa mendidih. Ada sekelebat mimpi di dada untuk bisa menulis dan menorehkan nama saya di koran. Dalam hati, saya berjanji suatu saat nanti harus bisa menulis di koran."

"Sejak itu aku pun mulai rajin membaca koran dan mempelajari tulisan yang dimuat di koran secara otodidak," kenang Mursid yang saat itu tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Akidah ini.
Mursidi saat menjadi pembicara di ajang Islamic Book Fair 2011Mursidi saat menjadi pembicara di ajang Islamic Book Fair 2011
Mursid mulai belajar menulis pada malam hari dan mengirimkannya ke sejumlah koran. Tapi, jalan yang dilalui tidaklah mulus karena  semua tulisannya ditolak oleh redaktur media tersebut.

Namun, hal tersebut tidak membuatnya patah arang. Dengan usaha keras, ditunjang kesabaran dan mental yang kuat ia tetap mengirimkan tulisannya ke berbagai media.
Setelah berjuang dengan keras, satu persatu, tulisannya dimuat di koran lokal hingga kemudian menembus koran nasional.

Karena kepiawainnya menulis berbagai resensi buku, putra Abdul Mu’id dan Masmi’ah ini kerap menjadi pembicara dalam diskusi seputar dunia kepenulisan. Dan,  berkesempatan menemui lelaki berpenampilan sederhana dengan rambut ikal agak gondrong ini saat menjadi pembicara dalam diskusi di ajang Islamic Book Fair Senayan Jakarta.

Usai menjadi pembicara ia menuturkan, menulis resensi buku adalah langkah untuk mengikat makna agar buku yang pernah dibaca itu tidak lupa. Tapi, kalau lupa maka tidak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir, melainkan tinggal membaca resensi yang telah ditulis.

Serius menekuni profesi..Serius menekuni profesi..“Karena itu, agar makna atau pemahaman kita atas sebuah buku itu tetap teringat dan terjaga, setelah membaca sebuah buku selayaknya menulis resensi (atau minimal membuat sinopsis). Itu langkah yang baik,” kata lelaki ini memberi alasan.

Menurut Mursidi, yang juga berprofesi sebagai wartawan di majalah Hidayah ini mengatakan,  modal utama dalam meresensi buku adalah paham (berusaha mendekati maksud yang dikehendaki penulis buku) tentang “sebuah buku yang hendak diresensi”. Jika modal utama itu sudah digenggaman otak, maka menulis resensi tidak lagi sesuatu yang sulit. Karena hal-hal yang lain, seperti teknik menulis resensi, memilih jenis buku, dan unsur-unsur yang harus dikuasai dalam menulis resensi bisa mengikuti.

Lebih lanjut Mursid mengatakan, bagi yang tidak mempunyai uang untuk membeli buku juga bukan berarti jalan untuk bisa meresensi buku kemudian tertutup rapat-rapat. Karena saat awal-awal menulis resensi buku, ia juga kerap meminjam buku dari teman jika memang tidak punya uang untuk beli buku.

“Setelah saya intens menulis resensi buku dan mulai kenal akrab dengan bagian promosi beberapa penerbit buku, saya tidak segan meminta buku untuk dikirimi. Apalagi sebagian besar penerbit juga menganjurkan kepada saya untuk memintanya jika ada buku yang saya kehendaki,” jelas lelaki yang pernah kuliah di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa dan Akademi Teater dan Film Indonesia ini.

Penerbit tidak akan keberatan mengirim bukunya mengingat permintaan buku oleh peresensi bisa dikatakan sebanding lurus dengan promosi sebuah buku. Di sini, ada timbal balik antara penerbit dan peresensi.
Menulis resensi buku, sambung Mursid, mudah atau susah itu tergantung dari kemauan atau ketekunan seseorang. Setiap ada kemauan, pastilah ada jalan. Jadi kalau ingin menulis resensi buku dan serius maka menulis resensi itu akan jadi mudah. Tapi sebaliknya, bagi orang yang malas dan mudah menyerah bahkan tak mau belajar maka menulis resensi buku itu akan menjadi sesuatu yang sulit.

Kunci utama
Mursidi berawal dari loper koran Mursidi berawal dari loper koran Untuk bisa maksimal meresensi buku, kunci utama adalah memahami isi buku. Karena itu, dibutuhkan pembacaan yang detail (menyeluruh) agar nanti dapat meresensi dengan bagus. Bisa saja, membaca buku dengan cara membaca sekilas, tapi hasil resensinya tidak akan bisa maksimal. Ada “celah dan lubang” yang tidak bisa diungkap karena membaca buku yang diresensi dengan tidak detail.

Ada beberapa unsur dalam meresensi, pertama, judul buku. Dalam membuat judul, usahakan yang menarik dan mewakili isi tulisan resensi. Kedua, data buku; meliputi judul buku, penulis, penerbit, tahun terbit, cetakan, tebal buku dan harga buku. Ketiga, pengantar atau pembuka resensi.

Pembuka inilah yang cukup memiliki kekuatan muat, karena dengan pembuka yang memikat bisa dipastikan redaktur akan terpikat setidaknya untuk pertama kali membaca sebuah resensi. Keempat, mengungkap isi buku; lebih jauh lagi jika kemudian dijelaskan dengan mengikutkan “teori” yang bisa menjelaskan buku itu dengan analisis yang tajam.

Kelima, kritik peresensi atas buku itu (mengungkapkan kelebihan dan kekurangan buku, tema yang diangkat, teknis penulisan dan lain). Keenam, penutup; mengungkap kontektualitas buku dikaitkan dengan kondisi kekinian, untuk siapa buku itu ditulis dan bisa ditambah lain lagi ulasan khusus tentang buku tersebut secara spesifik.

Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh peresensi agar resensi yang ditulis itu bisa dimuat. Pertama, adalah pilihan buku yang diresensi. Kedua, adalah siapa penulis buku itu. Karena penulis yang terkenal bisa dipastikan memiliki nilai muat yang tinggi. Ketiga adalah mengetahui kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur sebuah media yang bersangkutan.

“Kalau ketiga faktor tersebut diperhatikan, maka peresensi tidak akan mengalami kesusahan untuk menembus atau bisa dimuat di media. Memang, kedekatan peresensi dengan redaktur itu bisa sedikit banyak membantu, tetapi hal itu bukanlah segalanya,” jelasnya.

Ada banyak keuntungan dalam meresensi buku. Pertama bisa belajar (dari membaca semua jenis buku), mendapat honor, mendapat buku gratis (secara berkala), dan di belakang hari akan menemukan bahwa menulis – entah itu resensi buku atau menulis genre lain adalah sebuah pertarungan, pergulatan hidup dan sekaligus menemukan jati diri.

“Adapun satu kerugian dalam meresensi buku yang pada ujungnya menjadikan kecanduan. Saya seperti terjebak pada genangan lumpur dan anehnya saya susah meloloskan diri,” paparnya.
Kini, sudah sebelas tahun lebih Mursid menjadi penulis freelance di sejumlah koran lokal dan nasional: menulis resensi buku, opini, esai sastra, esai film dan cerita pendek. Tidak kurang ada sekitar 300 tulisan resensi yang sudah dimuat di koran lokal dan nasional.

“Semua prestasi itu seperti sebuah mimpi. Pasalnya, sejarah hidupku nyaris selalu diliputi rentetan kegagalan,” tandasnya.

Bram: Bertindak Kriminal, Bukan Komunitas Airsoft Gun

Komunitas Airsoft Gun selalu menelan 'pil pahit' ketika ada tindakan kriminal menggunakan senjata oleh para oknum. Tak mau dianggap sebagai komunitas gagah-gagahan bak cowboy, Bram dari SPARTAN memberi jawaban...  

Bram bergaya militer dalam sebuah permainan airsoft gun/ Foto-foto: Dok SPARTANBram bergaya militer dalam sebuah permainan airsoft gun/ Foto-foto: Dok SPARTAN
BELAKANGAN INI kasus penyalahgunaan alat permainan airsoft semakin marak. Masih ingat dalam benak kita kasus pamer 'senjata' yang dilakukan H Muhammad Sabri (43), warga RT 16 Kelurahan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Ia sempat menembakkan pistol airsoft miliknya ke arah Andi Alfian (18), Warga Kilometer 2 Kelurahan Penajam PPU.

Akibat aksi pamer senjata replika itu, H Muhammad Sabri terjerat pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara.

Mengenai mudahnya pemilik replika airsoft yang bertindak ala ‘cowboy’ itu tak ayal menebar sinisme. Selain itu, membuat banyak warga yang ketakutan. Ironisnya, pengguna jenis permainan ini adalah komunitas yang memang benar-benar menyukai airsoft sebagai sarana olahraga, hobi sekaligus sebagai ajang sosialisasi. Sementara, di luar itu banyak oknum yang menyalahgunakannya. Tentu, para komunitas yang identik dengan gaya militer ini pun merasa tidak nyaman, begitu kata Bram.

Bram - SpartanBram - SpartanMenurut Bram Panggabean, yang juga Ketua SPort AiRsoft TActical simulatioN (SPARTAN), oknum yang melakukan tindakan memalukan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang tidak tergabung dalam komunitas airsoft.

Alasannya, orang yang tergabung dalam komunitas airsoft tidak akan mungkin bertindak demikian. Karena, siapapun orangnya ketika tergabung dalam komunitas ini, otomatis akan menjunjung tinggi harkat dan derajat nama komunitasnya. Begitu juga dengan komunitas airsoft, anggotanya akan menjunjung tinggi kredibilitas komunitasnya di mata masyarakat. Terlebih, alat permainan airsoft 100 persen mainan yang bentuknya saja menyerupai senjata yang digunakan militer.

“Awalnya hobi yang menggunakan replika senjata hanya orang-orang tertentu karena harga replikanya yang lumayan mahal. Dulunya harga replika diatas Rp 4 juta dan itu buatan Jepang,” ujar Bram kepada TNOL di Jakarta belum lama ini.
Komunitas Komunitas Mengingat replika senjata buatan Jepang, maka beberapa perusahaan dari China dan Taiwan pun ikutan tertarik untuk membuat. Akibatnya, replika senjata tersebut menurun drastis hingga 50 persen.

Harga replika senjata dari China dan Taiwan bisa diperoleh dengan harga Rp 2 juta.

Bram menambahkan, agar tidak terjadi penyalahgunaan replika tersebut, para anggota komunitas khususnya yang tergabung dalam Spartan pun menyebutnya bukan senjata. Anggota komunitas menyebutnya dengan kata Unit. Misalnya, jika mengunakan replika senjata yang menggunakan baterai maka disebut AEG, yang menggunakan gas disebut GBB dan yang menggunakan per atau pegas disebut Spring.

“Jadi kita tidak pernah mengatakan alat yang digunakan untuk bermain Airsoft adalah senjata. Tapi GBB dengan model M4 atau M16. Kenapa disebut seperti itu, karena kita menerapkan pemikiran itu bukan senjata. Kalau senjata bisa digunakan untuk membela diri. Ini sama sekali tidak bisa untuk bela diri.
“Paling, kalau kena hanya bentol-bentol saja. Kalau kita nakuti-nakuti orang, yang ada malah mainan kita diambil dan bisa dipukuli sama massa,” jelasnya.

Tidak Bisa Diubah Menjadi Senjata
TrainerTrainerSebagaimana layaknya senjata mainan, maka replika airsoft tidak bisa diubah menjadi senjata api seperti yang digunakan militer atau aparat kepolisian. Karena material dari replika tersebut sangat berbeda dengan senjata api sungguhan.

Replika senjata airsoft berbahan material dari plastik sehingga sangat sulit untuk menjadikannya sebagai senjata api. Selain itu, moncong dari replika tersebut juga sangat kentara bentuknya, yakni tidak besar seperti senjata api sungguhan.

“Hanya bentuknya saja yang menyerupai, sementara bahan dan sistem pengoperasiannya berbeda dengan senjata sungguhan.”

Bram menuturkan, bentuknya banyak yang menyerupai senjata api yang digunakan militer dan polisi. Maka banyak orang di luar komunitas yang berbuat kriminal. Bahkan Bram berani menjamin bahwa yang melakukan tindakan kriminal dengan membawa unit airsoft adalah orang di luar komunitas.

“Seratus persen orang yang didalam komunitas ini tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Yang dimaksud dalam komunitas tidak hanya sekedar nama. Tapi juga aktif dan kalau sudah aktif yang namanya hobi maka akan care. Dia tidak akan mau merusak hobi tersebut,” ujarnya memberi alasan.
Logo SpartanLogo Spartan
Ia sangat meyakini bahwa yang melakukan tindakan kriminal  bukan anggota komunitas airsoft. Hal itu, karena sesama sanggota komunitas airsoft akan saling terkoneksi. Jauhnya tempat tinggal tidak menjadi alasan bagi mereka untuk tidak saling terkoneksi. Apalagi, jika ada berita yang menyangkut airsoft, maka sesama anggota akan saling menginformasikan bahwa pelakunya tidak tergabung dalam komunitas.

“Kalau ada berita apapun kita langsung tanya dan mengonfirmasinya, apakah itu anggota komunitas atau bukan. Seperti kejadian kemarin, ada tersangka AW dari Jakarta Utara yang tertangkap polisi karena pamer unit. Dia itu sebenarnya anak sekolahan yang terserempet mobil dan langsung mengeluarkan GBB laras pendek,” ungkapnya memberi bukti.

Setelah polisi menangkapnya dan sesama anggota menanyakan siapa pelaku dan dari klub mana, maka ketika di search tidak akan muncul namanya. Bahkan, ketika disebar fotonya pun, tersangka tidak dikenal sebagai anggota komunitas dan ketika ditanyakan ke toko penjual unit airsoft pun tersangka tidak dikenal.
Kumendan..Kumendan..
“Itu artinya pelakunya adalah orang-orang di luar airsoft. Kita menyebutnya offline. Jadi orang yang tidak ikutan di komunitas airsoft, cuma beli unit dan menyalahgunakan,” paparnya.

Padahal, sambung Bram, jika menggunakan unit airsoft untuk melakukan tindakan kriminal bisa membuatnya sangat malu hati. Kenapa? karena unit tersebut sebenarnya adalah mainan.
Saat ditanya karena mudahnya orang di luar komunitas bisa memiliki atau membeli unit Airsoftgun menjadi pemicu, dengan tegas Bram mengatakan, bisa banget. Karena, toko yang menjual tidak fokus menjualnya hanya untuk komunitas. “Ada yang menjual unit kepada bukan komunitas airsoft, maka anggota komunitas ingin meluruskan,” ucapnya.

Karenanya, untuk meluruskan pemberitaan yang tidak benar tersebut, saat ini anggota komunitas meminta dan telah bekerja sama dengan toko airsoft agar selektif menjual unit. Sehingga, tidak ada lagi kejadian yang mengatasnamakan komunitas airsoft.
Beragam unit Airsoft Gun yang dijual...Beragam unit Airsoft Gun yang dijual...
“Jika menjual unit diluar airsoft, maka yang rugi jelas toko tersebut karena bakal kena razia aparat keamanan.
“Selama ini sudah banyak seller (pedagang) yang care. Tapi banyak juga seller yang jualan di FB menjual sesuatu yang tidak diperkenankan di airsoft. Seperti pelurunya yang dari metal, keramik dan kaca. Itu sangat berbahaya,” tegas Bram.

Seharusnya, peluru yang digunakan anggota airsoft adalah dari jenis plastik yang daya rusaknya sangat rendah. Oleh karena itu, dirinya dan anggota komunitas airsoft meminta agar polisi jangan sampai menentang permainan airsoft.

“Kita mau airsoft diterima masyarakat, karena ini kegiatan positif. Kejadian kemarin adalah orang di luar airsoft,” tandas pria yang kerap bertindak sebagai trainer ini meyakinkan.

Anggie C.A.T, Kini Tak Lagi Pemarah...

Mencintai airsoft membuatnya berubah. Kini, Anggie justru banyak teman dan tak lagi memupuk sifat buruknya yang 'meledak-ledak.' Selain itu, senyum pun kerap mengembang di balik seragam dan unit senjata yang dipegangnya.     

Anggie/ Foto: Dok.Anggie/ Foto: Dok.SEBELUMNYA, lelaki bertubuh tegap ini dikenal sebagai orang yang bertemperamen tinggi dan emosional. Apa saja yang bersentuhan atau bersinggungan dengan dirinya bisa dipastikan akan berakhir dengan perkelahian. Adu jotos atau bersitegang bisa berlangsung dimana saja, bahkan di jalan umum sekalipun.

Tapi, semua hal buruk dan memalukan tersebut telah berubah 180 derajat. Kini ia lebih bersahabat kepada siapapun yang menyapanya. Sobatnya, juga terus bertambah. Bahkan, kini telah mencapai ribuan yang tersebar dari berbagai pelosok Jabodetabek.

Perubahan sifat yang lebih positif secara drastis dialami lelaki berkumis tipis tersebut setelah mengenal dan mencintai permainan airsoft. Yakni, sebuah olahraga atau permainan yang mensimulasikan kegiatan militer atau kepolisian yang menggunakan replika senjata api. Perubahan sifatnya  itu, juga tak membutuhkan waktu lama. Hanya berkisar dua tahun semenjak ia menekuni permainan airsoft sejak 2006.

Bak pasukan tempur terlatih...Bak pasukan tempur terlatih...Itulah sosok dari Gabriel Anggie, atau biasa disapa Anggie C.A.T, Team Leader dari Combat Airsoft Team (C.A.T). Hampir semua penggemar airsoft mengenal lelaki kelahiran Klaten, 6 Juni 1966 ini. Apalagi anak keenam dari sembilan bersaudara ini sangat menjiwai permainan airsoft, sehingga ia pun kerap menggelar berbagai event airsoft. Tak salah, Anggie adalah dedengkot airsoft yang ada di Indonesia, karena setiap penggemar airsoft pasti akan mengenal lelaki ini.

“Terus terang sebelum mengenal airsoft, teman saya terbatas. Saya ini orang yang cenderung bertemperamen tinggi,” kata Anggie C.A.T mengawali pembicaraan di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Anggie menuturkan, tertarik pada airsoft karena ingin mengembalikan jatidirinya sebagai manusia yang makhluk sosial dan berbagi dengan orang lain.  Ia ingin sekali bergaul dan bersosialisasi dengan masyarakat umum. Oleh karena itu, ketika ada permainan airsoft yang melibatkan banyak orang, ia pun begitu tertarik untuk segera bergabung.
Menjadi leader...Menjadi leader...
“Dalam bermain airsoft pastinya saya akan ketemu orang banyak dan bersahabat dengan mereka,” jelas ayah satu anak bernama Andreas ini.

Karena sering bergaul dalam permainan airsoft, lambat laun pola pemikiran Anggie yang sebelumnya kaku dan pelit senyum pun berubah menjadi sering bercanda. Dari candaan itulah tercipta pola kedewasaan terhadap diri Anggie. Apalagi setiap akan memulai permainan ada siraman rohani dari sesepuh airsoft.

“Itulah yang membuat saya menemukan jati diri bisa menjadi luwes ketika bermain airsoft. Tahun 2008 saya sudah beradaptasi, yang tadinya sangat memalukan karena kalau tersinggung pasti ujungnya berantem. Kadang-kadang saya menyerap yang tadinya bercanda saya menilainya menghina,” ungkapnya.

Anggie mengakui, perubahan sifatnya tersebut juga dirasakan oleh Kristina, istrinya. Perlakuan kasar pada tambatan hatinya tersebut telah jauh berkurang. Kini ia bisa bermesra-ria hingga membuat iri pasangan lainnya. “Sampai detik ini sudah tak terhitung lagi saya punya teman. Teman saya bahkan mencapai ribuan. Bahkan, banyak orang mengenal saya tapi saya tidak kenal,” paparnya sembari tersenyum.


Bersitegang dengan Istri
Ingin menjadikan airsoft sebagai permainan yang positif..Ingin menjadikan airsoft sebagai permainan yang positif..Karena airsoft sudah mendarah daging, berbagai peralatan pun kini dimiliki Anggie. Ia pernah memiliki 25 unit replika senjata dari berbagai jenis seperti M4, AK 47, Sniper dan MG. Selain itu, seragam juga menumpuk di lemarinya seperti seragam militer Amerika Serikat, Inggris dan Jerman.

Anggie seperti tak pernah berhenti membeli berbagai macam peralatan airsoft yang harga minimalnya mencapai Rp 2,5 juta. Karenanya ia sempat bersitegang dengan Kristina, istrinya. Peristiwa itu berawal ketika istrinya menanyakan harga setiap peralatan yang dimiliki Anggie.

“Saya bilang murah kok, paling mahal hanya Rp 500 ribu,” ujarnya.

Kebohongannya terbongkar ketika menjemput sang istri di salah satu toko airsoft. Saat itu, istrinya kaget dengan harga unit M4 yang mencapai Rp 2 juta. Sampai di rumah aksi ‘perang’ mulut pun terjadi. Namun, Anggie mengatakan, semua peralatan dibeli tidak menggunakan gaji. Semua gaji yang didapatnya telah disetorkan secara utuh ke istrinya.

“Saya beli peralatan airsoft hanya menggunakan uang laki saja. Uang perempuan tidak saya gunakan,” ucapnya mengenang.

Aturan main
Kini banyak kawan...Kini banyak kawan...Terkait permainan airsoft yang kerap disalahgunakan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab, saat ini Anggie tengah menyusun semacam peraturan yang tertuang dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Saat ini AD/ART tersebut telah disosialisasikan dan disebarkan ke berbagai team airsoft yang ada di Indonesia.

Anggie mengakui, karena tidak ada aturan yang jelas, membuat sesama anggota kerap jor-joran dalam daya lesat setiap peluru yang ditembakkan unit atau feet per second (fps).  Karena tidak aturan tersebut, maka permainan airsoft berujung dengan perkelahian atau bermusuhan.

“Makanya, saya ingin membuat team yang benar-benar memiliki attitude cara bermain airsoft yang benar dan sehat,” paparnya.
Berbaur dengan alam...Berbaur dengan alam...
Anggie berharap dengan adanya AD/ART maka berbagai pelanggaran yang terjadi di komunitas airsoft bisa dikurangi atau dihilangkan. Dalam AD/ART tersebut ada sekitar 23 pasal yang berisi aturan dan sanksi yang melanggar. Pasal-pasal dalam AD/ART tersebut mengatur peraturan dan sanksi. Sanksi terberat bagi yang melanggar adalah dikeluarkan dari tim.
Selain itu, data-data si pelanggar juga disebarkan sehingga tim lain tidak akan menerimanya. Sanksi keras tersebut agar ada efek jera, sehingga tidak membuat citra airsoft menjadi rusak.

“Mudah-mudahan dengan peraturan itu pelanggaran yang dilakukan penggemar airsoft bisa berkurang,” ujarnya.
Dilatih militer..Dilatih militer..
Untuk mengangkat citra airsoft, Anggie bersama C.A.T juga kerap menggelar event atau istilahnya tour of duty yang digelar diberbagai daerah seperti Studio Alam TVRI, Pulau Edam Kepulauan Seribu dan  Gunung Pancar Bogor.
Diantara event yang pernah dibuatnya adalah Operasi Stonehole 3 24 Hours, Operasi "Brigade 3234",  Operasi "JUNGVER", Joint Operasi Dharmayudha IV, Gathering –City Elimination, Island Wargame "GHOST RECON OPERATION" 2nd dan lainnya.

“Untuk event, C.A.T memang telah dikenal yang sering buat event,” tandasnya.

Kamis, 07 April 2011

'Buzzy’ Harri Baskoro, Terus Berburu NKOTB

Foto: Dok. BuzzyFoto: Dok. BuzzySIAPA tak kenal NKOTB (New Kids On The Block), grup musik yang berjaya di era tahun 1990-an. Rasanya, hampir semua anak muda saat itu menggandrungi jenis musik boyband asal Amerika Serikat ini.

Kala itu personil NKOTB yang terdiri dari Jonathan Knight, Donnie Wahlberg, Joey McIntyre, Danny Wood dan Jordan Knight  langsung menjadi idola tak cuma bagi kaum hawa, kaum adam pun ikutan mengagumi.

Foto: SafariFoto: SafariDan, nampaknya kekaguman itu tidak pernah luntur di hati penggemarnya, meski boyband ini telah cukup lama menghilang. Buktinya, komunitas penggemar boyband ini justru bermunculan, salah satunya di Indonesia yang jelas-jelas langsung melekatkan nama boyband tersebut yakni Forum Online NKOTB.

Serunya, komunitas yang digawangi Harry Baskoro Adiyanto ini anggotanya kebanyakan perempuan. Bisa dimaklumi, pasalnya personil NKOTB selain memiliki vokal yang handal, wajah mereka pun bikin kesengsem banyak wanita. Bahkan beberapa orang sempat pingsan kala menyaksikan aksi panggungnya beberapa waktu lalu. Untuk itulah, Harry yang akrab dengan sapaan Buzzy ini merasa beruntung berada diantara banyak wanita anggotanya.

“Kalau sudah ngumpul seru banget karena nggak cuma anak muda, kaum ibu pun ada, antusiasme mereka terhadap NKOTB luar biasa,” ungkap Buzzy saat ditemui dalam acara temu komunitas di Jakarta.

Menurut lelaki yang saat ini bekerja sebagai Corporate Communication di sebuah bank swasta di Bandung ini, saat ini anggota forum tersebut berjumlah sekitar 583 orang yang tersebar dari seluruh pelosok Indonesia dan luar negeri. Dan, antar mereka selalu mengadakan interaksi.

Foto: SafariFoto: SafariDiakui oleh bujangan berkacamata ini, kecintaannya pada NKOTB memang sangat berlebihan. Namun, bukan berarti dia harus mengoleksi segala bentuk merchandise NKOTB seperti sarung bantal, mug, handuk, dan sebagainya, “Aku cukup mengoleksi lagu-lagunya dalam bentuk CD, DVD, dan video, begitupun dengan buku-buku mereka,” jelas Buzz seraya membeberkan koleksinya.
Foto: IstimewaFoto: Istimewa 
Berburu ke Luar Negeri
Saat ini Buzzy mengoleksi berbagai macam album NKOTB dari rilisan yang pertama hingga yang keluaran terbaru. Koleksinya antara lain New Kids On The Block (1986), Hangin' Tough (1988), Merry, Merry Christmas (1989), Step By Step (1990), No More Games/The Remix Album (1991), Face The Music (1994), Greatest Hits (1999) dan The Block (2008).

Ketika NKOTB pecah tahun 1994 dan diantara personilnya ada yang bersolo karir, Buzzy pun mengoleksi album-albumnya seperti album The Fix (Jordan Knight), 8.09 dan Talk to Me (Joey McIntyre). Sedikitnya ada sekitar 60 album NKOTB dan personil NKOTB saat bersolo karir baik yang berbentuk CD atau DVD yang telah dikoleksi Buzzy.

Foto: Dok. BuzzyFoto: Dok. BuzzyMeski tak semua pernak-pernik NKOTB diburu, namun Buzzy tetap mencari t-shirt dan topi bernuansa ala NKOTB. Aksesoris tersebut kadang dibawa serta ketika menghadiri berbagai kegiatan. Dengan bangga, Buzzy memperlihatkan ‘hasil buruannya’ berupa CD, DVD dan buku NKOTB seperti yang dilakukannya di hadapan personal temu komunitas TNOL di Resto Padzzi beberapa waktu lalu. Buzzy sengaja membawa satu tas khusus berisi barang-barang tersebut.

Dengan telaten Buzzy menceritakan setiap album NKOTB yang didapatnya dengan susah payah. Dikatakan susah payah karena perburuannya ada yang sampai ke luar negeri. Ada yang bertepatan saat bertugas keluar negeri ada pula yang memang sengaja ia buru. Yang seru, untuk mendapatkan album salah satu personil NKOTB yang tak ada di toko-toko ternama ibukota, justru dia mendapatkannya di sebuah toko musik kecil di kawasan Rawamangun, Jakarta.

Saat ini Buzzy sedang berburu album NKOTB pasca pecahnya grup boyband ini tahun 1994. Konon, album itu sangat bagus dan punya kenangan khusus, sayangnya label Indonesia enggan mengedarkan album ini, padahal Buzzy sangat berminat. Alhasil, dia harus berburu ke luar negeri.

Media Online Sangat Membantu
Buzzy mengaku, mengoleksi album dan aksesoris NKOTB karena tertarik dengan trend musik yang dibawakan NKOTB, seperti koreografi dan lagu-lagunya yang umumnya fenomenal.  “Saya kenangannya lebih ke musik dan style-nya,” kata Buzzy.
Foto: Dok. BuzzyyFoto: Dok. Buzzyy
Bagi Buzzy, NKOTB itu sangat fenomenal terbukti hampir semua aksesoris yang dikenakan NKOTB seperti baju, sepatu dan topi menjadi rujukan remaja untuk menirunya. Contohnya sepatu Docmart yang dikenakan mereka, hampir semua remaja perempuan dan laki-laki memburunya.

“Kala itu sepatu Docmart sangat luar biasa. Saya sempet banget kepengen punya sepatu Docmart,” kenang lelaki kelahiran Jakarta, 2 Desember 1976 ini.

Foto: IstimewaFoto: IstimewaDulu, untuk mendapatkan foto atau sekedar melihat pernak-pernik yang dikenakan NKOTB perlu biaya, sekarang hampir dikatakan minim biaya terlebih bagi mereka yang sering berhubungan dengan internet. Untuk mendapatkan informasi tentang NKOTB atau foto-foto bisa mendapatkannya secara online.

“Dulu susah banget kalau pengen dapat ini dan itu. Video koreografi saja susah banget. Sekalinya dapat VHS, itu pun yang punya hanya orang-orang tertentu,” paparnya.  Sekarang, pastinya tidak karena komunikasi di dunia maya banyak membantu.

Jangan bicara keuntungan materi untuk kegiatan yang satu ini karena latar belakangnya adalah kepuasan batin. Bahkan kalau untuk diukur secara materi kadang tak masuk akal, misal ia pernah harus mengorek kocek hampir Rp 2 juta untuk sebuah DVD NKOTB. Namun, keuntungannya, ia bisa memiliki album tanpa membeli alias gratis. “Jadi, kita ambil untungnya saja yaitu saya bisa dapat album gratis,” ungkapnya.

Era NKTOB memang telah berlalu, namun bukan berarti jejak boyband ini akan terhapus atau mati. Namun dengan hadirnya boyband SM*SH di tanah air, bisa jadi momentum kebangkitan kembali NKOTB.

Eko Aryanto, Satpam Jago Oprek Motor

Eko dan motor yang dikerjakan...Eko dan motor yang dikerjakan...Usianya masih sangat muda yakni baru menginjak 23 tahun. Tapi, soal prestasi mengoprek mesin motor jangan ditanya. Dari tangan dinginnya, ia berhasil membuat motor bisa berlari kencang dan menjuarai berbagai even drag race. Berkat kepiawaiannya  mengoprek mesin motor pula, media otomotif nasional mengapresiasi salah satu motor rakitannya.

Lelaki yang cukup dikenal penggemar motor balap seantero Jabodetabek ini adalah Eko Aryanto. Eko adalah mekanik dan pemilik bengkel Satelite Jaya Motor yang terletak di Jl Raya Parung Serab/Kota Kembang Rt 03/04 Tirtajaya Depok. Karena ketenarannya mengoprek mesin motor, hampir setiap hari bengkel lelaki muda ini selalu dipenuhi penggemar motor balap dari berbagai daerah. Biasanya, mereka meminta motornya dirubah mesinnya (tune up) sehingga bisa berlari kencang dan menjadi juara dalam berbagai even drag race.

Eko di bengkel..Eko di bengkel..Kepada TNOL, cowok yang masih membujang ini mengaku bisa mengoprek mesin motor berawal dari hobi. Hobinya pada mesin motor juga ditopang dengan pendidikannya yakni dari STM PGRI 23 Srengseng Sawah Jakarta Selatan Jurusan Otomotif. Tapi, hobinya sempat tidak tersalurkan karena usai lulus dari STM tahun 2004 langsung bekerja menjadi petugas security.

Selama tiga bulan, sulung dari empat bersaudara ini menekuni profesi menjadi penjaga rumah orang bule dikawasan Kuningan Jakarta Selatan. Namun, merasa tidak cocok dengan pekerjaannya yang awalnya selalu berkecimpung dengan dunia mesin.

Lelaki kelahiran Cilacap 7 Januari 1987 ini pun memutuskan untuk mengundurkan diri menjadi security.
Setelah tidak bekerja, Eko pun menganggur di rumah. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama karena setelah satu bulan jobless, Eko langsung mendapat tawaran untuk menjadi mekanik di Ahon Motor. Mungkin karena otomotif dunianya, selama 3,5 tahun Eko pun mengabdi di bengkel yang khusus menangani perbaikan sepeda motor tersebut.

Eko dan teman-teman anak motorEko dan teman-teman anak motorDi bengkel Ahon Motor, Eko menjadi mekanik andalan dan kebanggaan. Karena dari kinerjanya, nama bengkel Ahon Motor menjadi terkenal. Hal itu karena beberapa motor yang ditangani Eko berhasil menjadi juara dalam berbagai even drag race. Diantara kejurnas drag race yang berhasil mengangkat nama bengkel Ahon Motor adalah seperti yang berlangsung di Sentul, Kemayoran, Bekasi, Bandung dan Yogyakarta.

Seiring terkenalnya Ahon Motor, nama Eko pun mulai diperhitungkan bagi penggemar motor drag race. Hampir semua penggemar balapan motor yang ada di Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Riau dan Sulawesi pasti mengenal Eko, tukang setting mesin motor yang menjadi mekanik di Ahon Motor.

Merasa kemampuan dirinya tidak bisa berkembang. Tahun 2009, Eko mengundurkan diri secara baik-baik dari Ahon Motor. Ada perasaan sedih ketika harus berpisah dengan bengkel Motor yang telah membesarkan namanya. Namun, hal tersebut harus diputuskan demi kemajuan agar dirinya bisa berkembang lagi.

Chief Mekanik
Sibuk di bengkel dengan motor oprekan..Sibuk di bengkel dengan motor oprekan..Karena namanya sudah tenar sebagai tukang oprek mesin, usai keluar dari Ahon Motor, banyak tawaran untuk menjadi mekanik datang menghampiri. Namun, semua tawaran tersebut ditolaknya, karena Eko ingin membuka bengkel sendiri agar bisa bebas berkreasi. Diantara tawaran yang ditolaknya adalah menjadi chief mekanik pada suatu bengkel di Riau.

“Saya ditawari jadi chef mekanik tapi biaya hidup di sana kan besar. Jadi saya tolak, lebih baik di daerah sini saja, biaya hidupnya ringan,” ungkap lelaki berzodiak Capricorn ini.


Dengan modal Rp 3,5 juta, Eko pun membuka bengkel hingga sekarang. Bengkelnya saat ini merupakan bekas temannya yang mengalami sekarat karena akan bangkrut. Namun dalam hitungan bulan, bengkel tersebut kini malah mendatangkan keuntungan yang besar dan bisa menggaji dua karyawan yakni Andre dan Wawan Prestiawan.

“Alhamdulillah dari hasil bengkel ini bisa bantu orang tua dan adik-adik sekolah,” jelasnya.

Motor siap berlari kencang...Motor siap berlari kencang...Eko mengungkapkan, agar motor bisa menjadi juara dalam berbagai event drag race maka semua ukuran standar motor harus diubah. Perubahan ukuran tersebut meliputi gear ratio, noken as, saher, pen struk, sistem pengapian, knalpot dan menaikan CC.

Namun semua ukuran yang tidak standar tersebut juga harus diimbangi dengan pemasangan atau penempatannya. Jika tidak tepat memasangnya maka jangan harapkan motor bisa berlari kencang. Karena yang didapat adalah motor malah mogok di tengah jalan.Apalagi dalam mengoprek motor tergantung keahlian mekanik. Dalam hal ini mekanik banyak menggunakan feeling untuk mendapat settingan yang tepat.

“Jadi semua itu tergantung masangnya, karena harus ada pengukuran yang sempurna biar larinya bisa kencang,” pungkasnya.

Agus, Modifikator Motor Chopper Bergaya Harley

Menggemari motor Harley Davidson, tapi keuangan belum mencukupi? Jangan langsung putus semangat, karena saat ini ada satu bengkel yang bisa mewujudkan keinginan dan impian itu!

Chopper rakitan Agus layaknya Harley davidson/ Foto: Safari TNOLChopper rakitan Agus layaknya Harley davidson/ Foto: Safari TNOL
Motor apapun jenisnya, baik bebek, sport atau scooter bisa dirubah menjadi layaknya Harley Davidson seperti yang Anda inginkan. Motor akan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga berbentuk chopper menyerupai motor Harley Davidson dengan berbagai model dan aksesorisnya, seperti body dan ban berukuran besar serta stang yang tinggi dan nyentrik.

Bengkel yang bisa merubah segala jenis kendaraan roda dua menjadi chopper tersebut bernama Gladiator (Global Modifikasi Motor). Bengkel ini terletak di Jl Raya Pondok Rajeg, Cibinong atau posisi persisnya dekat Stasiun Pondok Rajeg dari arah Depok ke Cibinong.

Agus mengerjakannya sendiri...Agus mengerjakannya sendiri...Bengkel yang buka setiap hari dari pukul 08.00-23.00 WIB ini bisa mendesain, modifikasi dan membangun sepeda motor menjadi chopper, karena motor jenis ini tidak pernah ketinggalan zaman. Motor chopper di bengkel ini juga merupakan buatan tangan atau handmade sehingga bisa disebut karya seni yang tidak ternilai harganya.

“Dari Perang Dunia II hingga saat ini, motor chopper selalu eksis mengikuti zaman. Hal ini berbeda dengan motor musiman yang modelnya bisa ketinggalan zaman,” kata Agus Subagyo (33), pemilik bengkel Gladiator.
.
Agus memilih spesialis chopper, karena bentuk motor ini lebih elegan. Selain itu, pamor yang dimiliki motor chopper juga lebih tinggi dari pada motor musiman yang merupakan keluaran atau produksi pabrik. Model motor buatan pabrik yang diproduksi secara massal mungkin hanya bisa bertahan 2-3 tahun, setelah itu hilang. Sementara motor chopper yang merupakan karya seni bisa bertahan hingga puluhan tahun.
Motor yang dirubah menjadi chopper juga bisa membuat pamor pemiliknya meningkat. Apalagi jika motor chopper tersebut dibeli oleh penggemar atau kolektor yang tentu harga tawarnya akan lebih tinggi.



Cegah Limbah
Beragam chopper..Beragam chopper..Dalam membangun setiap motor standar menjadi chopper, Gladiator berbeda dengan bengkel lain yang kerap mendatangkan spare part dari luar negeri. Bengkel Gladiator menerapkan recycle atau daur ulang sehingga selalu menghindari limbah.

Bengkel ini lebih mengutamakan memanfaatkan benda-benda atau spare part dari kendaraan lain yang ada di Indonesia untuk disesuaikan dengan motor yang dibangun. Misalnya velg mobil bisa dimanfaatkan untuk velg motor chopper, besi rangka juga memanfaatkan besi yang ada. Sementara kalau memasukan spare part dari luar negeri, harganya akan lebih mahal dan membuat Indonesia menjadi sarang limbah dari negara-negara lain.

Terkait berapa ongkos untuk membangun satu motor standar menjadi chopper, Agus mengungkapkan hal tersebut tergantung kerumitan. Biasanya ongkos yang diperlukan untuk membangun satu motor chopper dari kisarannya dari Rp 5 – 28 juta, bahkan bisa tanpa batas.

“Karena memodifikasi motor tidak ada harga pasaran. Bahkan ongkosnya bisa unlimited,” papar lelaki kelahiran Bojonegoro, 16 April 1977 ini.


Jiwa Seni
Bernilai seni...Bernilai seni...Mengenai kepiawaiannya memodifikasi segala jenis motor menjadi chopper, ayah satu anak ini mengungkapkan, dirinya bisa memodifikasi karena jiwa seni yang mengalir. Sebelumnya Agus Subagyo dikenal sebagai pelukis sketsa wajah. Karya lukisannya kerap dipesan oleh berbagai kalangan seperti pejabat dan pengusaha.

Namun minatnya pada seni lukis ditinggalkannya mengingat persaingan dalam seni lukis semakin ketat.  Ia pun memilih otomotif untuk menyalurkan hobinya pada seni desain. Terlebih ia tertarik pada otomotif  karena sejak lama sudah mengidolakan motor Harley Davidson.

“Otomotif yang saya tekuni juga tidak jauh dari karya seni. Karena setiap saya membangun motor tidak pernah menjiplak karya orang lain. Itu merupakan perbuatan tidak kreatif,” ujar ayah dari Esa Nafisa Subagyo (5), hasil pernikahannya dengan Nuryani, meyakinkan.

Inisial G selalu ada di rakitan Agus...Inisial G selalu ada di rakitan Agus...Terkait dengan kata Gladiator yang menjadi nama bengkelnya, Agus menuturkan kata 'Gladiator' memiliki filosofi. 'Gladiator' adalah sosok ksatria yang tangguh dan ketangguhan dari gladiator tersebut ingin diaplikasikan ke bengkelnya. Ia berharap motor chopper yang dibuatnya setangguh ksatria gladiator.

Awalnya singkatan Gladiator yang menjadi nama bengkelnya adalah Gila Modif Anak Motor. Namun, agar semua jenis motor bisa masuk, kata 'gila' pun berganti menjadi 'global' agar lebih umum. Bukan hanya tertarik pada sosok gladiator, simbol gladiator berupa helm gladiator yang menyerupai huruf G juga ditempelkan pada setiap motor yang dibuat chopper. 

Logo gladiator ditempatkan pada penutup mesin atau rantai yang berada disamping kiri atau kanan kaki. Selain itu, untuk menunjukkan perbedaan dengan bengkel lain maka setiap standar motor chopper juga dibentuk menyerupai pisau komando atau bayonet. “Saya berikan pisau komando di setiap standar karena dulu saya dipanggil Rambo,” jelasnya bangga.

REMC, Bikers Chopper yang Suka 'Gaul'

Mereka tampil garang dengan berbagai aksesoris yang kerap dikenakan bikers motor besar, seperti sepatu boats, rompi klub berlogo tengkorak bertanduk dan rantai yang dikaitkan ke dompet...

Tampil layaknya bikers 'Moge' menjadi ciri khas/ Foto2 DokTampil layaknya bikers 'Moge' menjadi ciri khas/ Foto2 DokTapi, itu hanya tampilan luar saja, karena para penggemar motor chopper yang tergabung dalam Road Eagle Motorcycle Club (REMC) ini kerap berkunjung ke komunitas motor chopper di daerah. Tujuannya, tak lain menjalin silaturahmi demi mempererat persahabatan dan persaudaraan.

Terbukti, setiap komunitas penggemar motor besar yang ada di daerah mengadakan acara. Seperti ulang tahun atau yang lainnya, maka REMC datang untuk memberikan penghormatan. Diantara komunitas motor besar atau chopper yang pernah mereka kunjungi adalah MMC Outsiders Sumedang, Mad Elephant Lampung, Blind Eagle, Bike Art Soul, dan Bikers Brotherhood.

Aksesoris..Aksesoris..“Kami selalu keliling daerah untuk memperkenalkan Road Eagle Motorcycle kepada komunitas motor besar lainnya,” kata Rudi Hart (53), pendiri REMC saat ditemui TNOL (6/4).

Di jalan...Di jalan...Setidaknya hampir semua daerah yang ada di Pulau Sumatera, Jawa-Bali dan Sumbawa pernah dikunjungi REMC. Pada tanggal 8 dan 14 April nanti, REMC juga akan mengunjungi Palembang Sumatera Selatan dan Yogyakarta. Itu belum dengan kunjungan REMC ke daerah sekitar Jabodetabek.

Menurut Rudi, kunjungan ke daerah yang dilakukan REMC guna merangkul semua bikers yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, apapun merk dan jenis sepeda motor bukanlah menjadi kendala bagi REMC. Saat ini saja, anggota yang tergabung dalam REMC memiliki berbagai macam merk dan jenis sepeda motor. Namun, semua motor tersebut telah dimodifikasi atau di chopper menyerupai motor Harley Davidson.

Logo..Logo..“Jenis dan merk motor bukan masalah di REMC, yang penting jiwanya bikers,” tegas lelaki kelahiran Surabaya, 21 Februari 1958 ini.
Tidak mempersalahkan merk dan jenis sepeda motor membuat REMC bermotto “di jalan kita bersatu, walaupun motor berbeda. Road Eagle Forever, Forever Road Eagle.” Sementara visi misi REMC adalah  membangun citra bikers bersama guna membina rasa kebersamaan dalam suka dan duka.

“Saat ini anggota REMC sudah 160 orang dengan latar belakang profesi yang berbeda. Motor mereka juga ada yang buatan Jepang, Inggris dan Amerika,” ungkap ayah dua anak ini.






Dikunjungi Road Eagle Jerman
Foto bareng Road Eagle Jerman..Foto bareng Road Eagle Jerman..Karena kerap mengunjungi berbagai komunitas motor besar di Indonesia, ternyata membawa  keberkahan tersendiri buat REMC. Pada tanggal 25-30 Maret 2010, REMC mendapat kunjungan kehormatan dari Road Eagle Chapter Kampten Jerman. Kala itu, Road Eagle Chapter Kampten Jerman yang berkunjung ke REMC ada tiga orang yakni, Morizt Lang alias Jagger, Billy dan Eva.

“Kunjungan Road Eagle Jerman ke REMC dari hasil chating. Ternyata mereka tertarik dengan persamaan nama komunitas yakni Road Eagle,” kata Rian Leleng, Presiden REMC.

Menurut Rian, Road Eagle Jerman juga akan kembali mengunjungi REMC pada tanggal 13-15 April 2011. “Makanya kami mohon support dari semua karena ini momen bagus untuk REMC dan Indonesia di mata mereka,” jelasnya.

Parkir...Parkir...Terkait dengan nama Road Eagle, Ryan menuturkan, nama tersebut diambil dari nama aksesoris yang diproduksi Art Studio Group (ASG) milik Rudi Hart. ASG memproduksi berbagai aksesoris bikers, seperti gelang, kalung, dompet, tas dan slayer. ASG kerap menjadi fasilisator dalam berbagai kegiatan motor besar sehingga aksesoris ASG diabadikan menjadi klub motor besar bernama Road Eagle Motorcycle Club (REMC) pada tanggal 17 Agustus 1997.
Adapun markas REMC terletak di Jl Selamet No 9 Guntur Jakarta Selatan. Saat ini REMC baru memiliki tiga chapter, yakni Jakarta, Bekasi, dan Cibinong. Selanjutnya akan dibuka juga chapter Tangerang, Depok dan Bogor.
Di markas...Di markas...
“Insya Allah, selanjutnya Surabaya. Saya ingin daerah-daerah di Jawa dijadikan chapter semua. Setelah itu ke Sumatera,” papar Rian yang diamini Rudi Hart.

Untuk menepis kesan arogan yang terdapat di komunitas motor besar, REMC juga kerap menggelar berbagai kegiatan sosial. Setiap bulan puasa, REMC menggelar puasa on the road, mengunjungi panti asuhan dan membantu korban bencana alam.

“Kita bukan Geng Motor tapi Klub Motor yang selalu berbuat positif untuk orang lain,” ujar Rudi Hart mantap.